TIDAK ada yang merasa perlu membuat aturan ketika semuanya berjalan lancar. Bisnis keluarga kami tumbuh stabil, keuntungan konsisten, dan nama keluarga masih dihormati.
Setiap keputusan penting selalu dibahas di meja makan atau di ruang kerja Papa, tanpa notulen, tanpa aturan tertulis. Semua berbasis kepercayaan.
“Untuk apa bikin aturan segala?” kata Papa suatu malam. “Kita ini keluarga.”
Aku, Brina, mengangguk waktu itu. Bram dan Brino tertawa kecil.
Kami tumbuh bersama, bekerja bersama, dan merasa saling memahami. Tidak ada yang membicarakan soal batas kewenangan, mekanisme pengambilan keputusan, atau siapa yang berhak memimpin ketika Papa nanti tidak lagi aktif. Semua terasa terlalu dini untuk dibahas.
Perusahaan ini berjalan seperti keluarga besar yang hangat. Jabatan diisi berdasarkan kedekatan dan sejarah.
Konflik kecil diselesaikan dengan diam atau kompromi sementara. Tidak ada yang mencatat siapa memutuskan apa, dan atas dasar apa.
Sampai suatu hari, Papa jatuh sakit.
Memang tidak lama, tapi cukup membuat semua orang panik.
Rapat darurat pun digelar. Bukan untuk membahas strategi bisnis, tapi untuk menentukan siapa yang berhak mengambil keputusan.
Suara suara mulai meninggi. Pendapat mulai berbeda. Yang selama ini diam, tiba-tiba lantang bersuara.
“Aku yang paling lama di operasional,” kata Bram.
“Tapi aku yang pegang keuangan,” balas Brino.
Papa hanya bisa terdiam di ujung meja, wajahnya pucat karena fisiknya kurang sehat.
Aku ikut duduk di sana dan menyadari sesuatu yang mengganggu. Kami tidak sedang bertengkar karena bisnis sedang buruk. Kami justru bertengkar karena tidak pernah sepakat sejak awal.
Tidak ada dokumen yang bisa dijadikan rujukan. Tidak ada kesepakatan tertulis tentang peran, batas, atau nilai bersama.
Semua keputusan selama ini bergantung pada satu orang: Papa. Dan ketika ia tidak lagi sepenuhnya hadir di tengah tengah kami, kekosongan itu berubah menjadi medan tarik-menarik.
Malam itu, aku membuka laptop dan mencoba mencari istilah yang selama ini hanya kudengar sekilas dari seminar bisnis: family constitution. Dokumen yang mengatur hubungan keluarga dan bisnis. Isinya tentang nilai, visi, mekanisme suksesi, dan cara menyelesaikan konflik.
Aku menutup laptop perlahan. “Terlambat,” pikirku. “Ah, mungkin belum sepenuhnya.”
Keesokan harinya aku bicara pada Mama. “Kenapa kita tidak pernah bikin aturan keluarga untuk bisnis?”
Mama tersenyum lelah. “Karena dulu kita pikir cinta dan ikatan keluarga sudah cukup.”
Aku mengerti sekarang. Family constitution tidak dibuat karena keluarga tidak rukun. Ia dibuat justru untuk menjaga kerukunan ketika kepentingan mulai berbeda.
Dan seperti banyak keluarga bisnis lain, kami baru menyadari pentingnya dokumen itu ketika ketidaksepakatan sudah mulai terasa nyata. (*/bersambung)



















