Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Epidemiolog Beberkan Kelompok Paling Rentan Terpapar “Super Flu”

×

Epidemiolog Beberkan Kelompok Paling Rentan Terpapar “Super Flu”

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Varian baru virus Influenza A (H3N2) subklade K, yang populer disebut sebagai super flu, telah terdeteksi menyebar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga saat ini tercatat 62 kasus, dengan sebaran terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas pasien yang terinfeksi diketahui berjenis kelamin perempuan.

Varian ini dikenal memiliki tingkat penularan yang cepat dan telah memicu peningkatan kasus di berbagai negara. Laporan NBC News menyebutkan bahwa lonjakan infeksi juga terjadi di sejumlah wilayah dunia sejak akhir 2025.

HALAL BERKAH

Influenza A subklade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention pada Agustus 2025. Sejak saat itu, virus ini dilaporkan telah menyebar ke lebih dari 80 negara.

Secara umum, gejala yang muncul serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, hingga nyeri tenggorokan. Namun pada kelompok tertentu, infeksi ini berpotensi berkembang menjadi lebih serius.

Baca Juga:  Semburan di Sungai Rungkut Tengah Surabaya Ternyata Akibat Kebocoran Pipa Gas, Bukan Fenomena Alam

Siapa yang Paling Rentan?

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa istilah super flu sejatinya bukan terminologi medis resmi. Sebutan tersebut lebih banyak digunakan oleh media dan masyarakat untuk menggambarkan subklade K yang dinilai lebih agresif dan mudah menyebar.

“Secara ilmiah, ini adalah subklade K dari Influenza A H3N2. Istilah super flu lebih merupakan istilah awam,” ujar Dicky kepada awak media Jumat (2/1/2026).

Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat subklade K menjadi perhatian. Salah satunya adalah pola kemunculan yang tidak biasa. Jika influenza umumnya meningkat saat musim dingin, subklade ini justru muncul lebih awal dari siklus yang biasa terjadi.

“Lonjakan kasus terjadi lebih cepat, bisa satu bulan atau bahkan hanya dua hingga tiga minggu lebih awal dari pola influenza musiman,” jelasnya.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Targetkan 5.000 Lansia Mahir Baca Al-Qur’an dalam Setahun$d

Dicky menambahkan, risiko infeksi berat paling tinggi dialami oleh kelompok rentan, yaitu:

  • Lansia berusia di atas 65 tahun

  • Penderita penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan daya tahan tubuh

  • Bayi dan anak berusia di bawah dua tahun

“Pada kelompok ini, risiko komplikasinya lebih besar. Banyak yang memerlukan perawatan di rumah sakit dengan masa rawat inap cukup panjang, rata-rata antara tujuh hingga 14 hari,” ungkapnya.

Kondisi inilah yang membuat subklade K tidak bisa disamakan dengan flu biasa, meskipun istilah super flu sendiri tidak sepenuhnya tepat dari sisi medis.

Gejala Lebih Berat pada Kelompok Rentan

Dicky juga menjelaskan bahwa gejala subklade K cenderung terasa lebih berat, terutama pada kelompok rentan. Batuk dapat berlangsung lebih lama, disertai produksi dahak yang lebih banyak, serta nyeri saat menelan yang lebih intens.

“Keluhannya lebih jelas dibandingkan flu musiman. Pada lansia dan anak di bawah lima tahun, kondisinya bisa jauh lebih berat,” katanya.

Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa tingkat kematian akibat subklade K masih jauh di bawah Covid-19 pada fase awal pandemi.

“Secara global memang sudah jutaan orang terinfeksi dan ratusan ribu mengalami kondisi berat. Namun angka kematiannya masih jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM