Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

El Nino Godzilla Ancam Produksi Padi Jatim

×

El Nino Godzilla Ancam Produksi Padi Jatim

Sebarkan artikel ini
Produksi padi Jawa Timur 2026 diproyeksikan stabil, namun ancaman El Nino ekstrem berpotensi menurunkan hasil panen. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Produksi padi di Jawa Timur pada 2026 diproyeksikan tetap stabil seperti tahun sebelumnya. Namun, pemerintah pusat dan daerah kini mewaspadai potensi dampak kemarau ekstrem yang diprediksi terjadi pertengahan tahun akibat fenomena El Nino Godzilla.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Yudi Sastro, menyampaikan bahwa hingga awal Mei dampak kemarau belum terlihat signifikan. Namun, puncak kekeringan diperkirakan mulai terasa pada Juni hingga Agustus.

HALAL BERKAH

“Kalau tidak terlalu ekstrem, produksi kita relatif sama dengan tahun lalu. Harapannya tentu tidak terjadi penurunan,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Swasembada Pangan Berkelanjutan Provinsi

Jawa Timur di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Kamis (2/3/2026).
Yudi menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga optimalisasi sarana pengairan.

Baca Juga:  Libur Nataru 2026, Jawa Timur Catat 19,8 Juta Pergerakan Wisatawan

“Kita koordinasi dengan BBWS, Kementerian PU, dan daerah untuk memastikan distribusi air berjalan baik. Kalau sumber air tidak tersedia, kita siapkan alternatif seperti peralihan ke komoditas jagung,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengalaman menghadapi kondisi serupa pada 2024 menunjukkan bahwa dampak kemarau bisa ditekan dengan langkah mitigasi yang tepat. Menurutnya, musim kemarau tidak selalu berdampak negatif.

Pada musim tanam tertentu, produktivitas padi justru meningkat, khususnya di Jawa Timur yang rata-rata mampu mencapai di atas 8 ton per hektare.

Meski ada peluang produktivitas, tantangan lain muncul berupa persaingan penggunaan lahan dengan komoditas lain seperti jagung, tembakau, dan tebu.

Jawa Timur dikenal sebagai produsen jagung terbesar nasional, sementara harga tembakau yang tinggi turut memengaruhi alokasi lahan.

Baca Juga:  Harga Emas di Pegadaian Kompak Naik, Ini Daftarnya!

“Untuk lahan kering kita arahkan ke jagung, sedangkan lahan dengan irigasi baik tetap untuk padi. Ini harus diatur dengan baik,” imbuh Yudi.

Ia juga menegaskan peran strategis Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional. “Kalau Jawa Timur bermasalah, Indonesia juga akan bermasalah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, mengingatkan potensi risiko yang lebih konkret.

Berdasarkan perhitungan, sekitar 402 ribu hektare lahan di Jatim berpotensi terdampak kekeringan.
Jika tidak diantisipasi, potensi kehilangan produksi diperkirakan mencapai 2,3 juta ton gabah kering panen.

Angka ini signifikan mengingat total produksi Jatim pada 2025 mencapai 11,13 juta ton.
Heru menjelaskan curah hujan diperkirakan menurun sejak April dan mencapai titik terendah pada Agustus, bahkan berada di bawah normal.

Baca Juga:  Antisipasi Lonjakan Konsumsi Jelang Imlek dan Ramadan, Pertamina Tambah 7,8 Juta Tabung LPG Subsidi

“Kalau di bawah normal, kemarau akan lebih kering dan panjang. Ini yang harus kita antisipasi sejak sekarang,” ujarnya.

Heru menegaskan, upaya menjaga produksi menjadi sangat penting agar capaian positif tahun 2025, yang mencatat kenaikan produksi hingga 13 persen, tidak mengalami penurunan pada 2026.

“Berbagai intervensi seperti pengendalian hama penyakit, penguatan irigasi, serta koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas produksi pangan,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM