Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Ekspor dan Permintaan Baru Jadi Pendorong Utama, PMI Manufaktur Indonesia Tembus 53,8

×

Ekspor dan Permintaan Baru Jadi Pendorong Utama, PMI Manufaktur Indonesia Tembus 53,8

Sebarkan artikel ini
PMI manufaktur Indonesia naik ke level 53,8 pada Februari 2026, ekspansi terbesar sejak Maret 2024. (Foto: IISIA)
toplegal

TOPMEDIA – Indeks Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali menunjukkan penguatan signifikan. Pada Februari 2026, PMI naik ke level 53,8 dari posisi 52,6 pada bulan sebelumnya.

Laporan S&P Global menegaskan bahwa capaian ini merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024, menandakan kondisi pengoperasian manufaktur nasional berada dalam tren positif.

HALAL BERKAH

Menurut Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, peningkatan PMI terutama dipicu oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia.

Permintaan baru tercatat naik selama tujuh bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan paling kuat sejak November 2025.

“Perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama, memberikan prospek positif pada bulan-bulan mendatang,” ujar Usamah dalam rilis resmi, Senin (1/3/2026).

Baca Juga:  Harga Emas di Pegadaian Terus Melonjak, Kini Tembus Rp3,275 Juta per Gram

Data survei menunjukkan jumlah pelanggan meningkat dan kepercayaan diri pelaku usaha membaik. Pertumbuhan permintaan terjadi secara luas, termasuk pesanan ekspor baru yang naik untuk pertama kalinya dalam enam bulan.

Bahkan, kenaikan permintaan ekspor tersebut merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022. Kondisi ini mendorong peningkatan produksi, perekrutan tenaga kerja, serta aktivitas pembelian.

S&P Global mencatat penjualan yang meningkat telah membuat perusahaan menaikkan ketenagakerjaan enam kali dalam tujuh bulan terakhir, dengan tingkat tertinggi sejak November 2025.

Kenaikan jumlah karyawan membantu manufaktur Indonesia meningkatkan output pada Februari 2026, yang tercatat sebagai ekspansi tercepat sejak April 2024.

Selain itu, sebagian produksi tambahan digunakan untuk membangun stok guna menghadapi lonjakan permintaan mendatang.

Baca Juga:  Surplus Jagung, Indonesia Siap Ekspor

Meski tren ekspansi terlihat solid, sektor manufaktur masih menghadapi tantangan berupa inflasi biaya input.

Harga bahan baku yang naik tajam membuat beban biaya rata-rata meningkat, meski tingkat inflasi input berada di posisi terendah dalam enam bulan terakhir. Produsen pun menyesuaikan harga jual pada tingkat moderat agar tetap kompetitif.

“Tekanan harga masih tinggi, dengan produsen mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku. Namun tingkat inflasi berada di level terendah sejak Agustus lalu,” jelas Usamah.

Sementara itu, optimisme terhadap prospek 12 bulan mendatang sedikit menurun dibanding Januari 2026 dan berada di bawah rata-rata jangka panjang.

Kendati demikian, Indeks Output Masa Depan masih menunjukkan keyakinan solid, didukung oleh harapan permintaan yang lebih kuat dan harga yang lebih stabil. (*)

TEMANISHA.COM