TOPMEDIA – Ada perempuan yang kecantikannya berhenti pada rupa. Ada pula yang keindahannya tumbuh dari cara ia memandang hidup. drh. EST. Alma Erina M.Si. adalah yang kedua. Perempuan berambut lurus, murah senyum, dengan mata yang selalu berbinar ini dikenal penyayang, rendah hati, dan baik. Namun di balik ketenangannya, ada perjalanan panjang yang dibangun dari empati, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk memilih jalan yang tidak selalu mudah.
Sejak Kecil Merasa Tidak Tega pada Hewan
Perjalanan Alma menjadi dokter hewan bukan tanpa sebab. Kecintaannya pada makhluk lain sudah dirasakan sejak kecil. Ia memiliki rasa sayang pada hewan begitu dalam.
“Sejak kecil saya suka menolong (hewan), entah anak burung, kucing buta atau bahkan kucing bayi yang saya temukan di pasar atau dimana saja saat saya keluar rumah,” ungkapnya mengawali cerita.
Saking tak teganya yang cukup besar, pernah suatu kali, ia menangis melihat ayam dipotong, merasa iba ketika melihat ayam sakit, dan lainnya.
“Jadi sebenarnya bukan masalah hewannya, bukan kedokterannya, saya sudah punya rasa nggak tegaan dan sayang (pada hewan) dari dulu. Kalau ditanya kenapa memilih kedokteran, karena basic-nya, saya suka penasaran dan suka memecahkan segala sesuatu,” lanjutnya.
Ia pun tumbuh dengan perasaan yang sering dianggap berlebihan. Ayam sakit membuatnya gelisah. Ikan dipotong membuatnya menangis. Dunia di sekelilingnya mungkin tak selalu paham, tapi hatinya sudah menetapkan satu hal: ia tidak bisa berpaling ketika makhluk hidup menderita.

Rasa Sayang Bertemu dengan Rasa Ingin Tahu
Alma bukan hanya berhati lembut. Ia juga penasaran. Ia menyukai proses mencari, membongkar, dan memfiksikan sesuatu yang belum jelas. Di satu titik, dua dunia menarik perhatiannya, yakni kedokteran dan hukum. Keduanya menuntut logika, ketelitian, dan keberanian mengambil keputusan.
Namun, kedokteran hewan memberi satu hal yang tidak ia temukan di tempat lain, yakni ruang bagi rasa sayang yang selama ini hidup di dalam dirinya.
“Sebetulnya ada satu hal lagi yang memang saya suka, saya suka ngomong, saya suka ngajar, saya suka berbagi, jadi mungkin itu yang Tuhan izinkan saya untuk saya ada di sini,” ungkap dosen FK Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini.
Perempuan berkulit bersih ini menceritakan bahwa sebenarnya ia daftar di UC masuk ke Fakultas Kedokteran bidang riset. “Kebetulan sebelumnya saya pernah kerja di Institute Tropical Disease Unair, saya researcher di sana, peneliti, saya melamar di sini (UC) pun di FK tahun 2016,” jelasnya.
Dari situ, Alma mendapat tanggungjawab mengelola laboratorium. “Ada beberapa lab yang saya terlibat di sana. Saya memang tidak langsung sebagai pengajar pada saat itu, karena memang saya di laboratorium. Kemudian, saya diminta untuk mengajar entrepreneur di FK waktu itu,” ungkap Alma.
Menjadi keharusan di UC, meski di FK, wajib mengikuti kelas entrepreneur. Sehingga, beberapa dosen harus mengikuti kelas tersebut. Sebagai seorang Magister, Alma pun dipercaya untuk mengembangkan FK di awal-awal sebagai dosen.
Awal Mula Mengemban Social Innovation Head
Karirnya tidak berhenti sampai di situ. Karena ketekunannya, ia juga dipercaya memegang parasitologi di FK UC. Bahkan, ia juga dilibatkan oleh Johan Hasan yang saat itu menjabat sebagai Dekan di SEH untuk menjadi Koordinator Mata Kuliah Kewarganegaraan.
Di sinilah yang menarik, keaktifan Alma di beberapa komunitas sosial, kebangsaan dan kebhinekaan serta mengenal banyak orang di beragam bidang, menjadi alasan ia dibutuhkan universitas untuk melakukan kerja sama atau kolaborasi. Seperti dengan Rumah Bhinneka, Women Incubator Solidarity and Humanity, Disability dan banyak lagi.
“Saya banyak terlibat di situ, kata Pak Johan, saya butuh orang aktif untuk menempati koordinator mata kuliah civic education (pendidikan kewarganegaraan),” lanjutnya.
Alma yang dikenal ramah dan senang bersosialisasi ditambah memiliki profesi sebagai dokter, memudahkannya berinteraksi dengan banyak kalangan dari beragam bidang.
Kelincahan dan kepiawaiannya berbicara di depan publik juga membuat karirnya makin cemerlang, hingga akhirnya ia dipercaya sebagai Social Innovation Head di kampus yang didirikan sang Begawan Ir Ciputra tersebut.
“Jadi social innovation atau social entrepreneurship itu berbeda dengan entrepreneurship. Kalau entrepreneurship itu kapital, benar atau enggak, enggak apa-apa memang kapital bagaimana kita mencari keuntungan untuk kita. Tetapi kalau social, itu tetap ada keuntungan untuk yang mengelola, tetapi 60 persen itu adalah untuk keberpihakan atau dampak bagi masyarakat. Jadi, sebenarnya tidak relate dengan profesi ya, jadi saya diminta membimbing anak-anak kedokteran ini, sehingga ilmu mereka dapat diaplikasikan kepada masyarakat,” urainya panjang penuh semangat.
Masih kata Alma, dalam hal Social Innovation, menjadi dokter bukan cuma duduk diam lalu menanyai pasien sakit apa, sudah berapa lama, dan lainnya. Tetapi bagaimana seorang dokter bisa menciptakan sebuah aplikasi yang memudahkan masyarakat mendapatkan fasilitas kesehatan atau memberi edukasi tentang kesehatan.

Dari Panggilan Kecil Menjadi Ruang Besar Bernama Kehadiran
Bukan hanya berhasil menjadi pengajar dengan karir mentereng, Alma juga bertanggung jawab atas apa yang sudah ia mulai. Setelah lulus sebagai dokter hewan, hidup Alma bergerak tanpa banyak rencana besar.
Berawal dari saudara datang membawa kucing sakit, tetangga menitipkan anjingnya, dan permintaan tolong yang datang silih berganti, akhirnya ia memberanikan diri membangun impian dengan mendirikan klinik hewan.
Maka lahirlah Alma Pet Care, klinik pertamanya. Bukan dari strategi pemasaran, melainkan dari kebutuhan yang nyata. Seiring waktu, tumbuh pula klinik-klinik lain dengan nama dan konsep berbeda. Seperti Cinta Satwa, Love Pet, hingga Skydome. Setiap tempat punya jiwa sendiri, warna sendiri, dan sentuhan sendiri.
“Bukan untuk terlihat besar. Tapi agar bisa lebih dekat. Saya tidak mau klinik yang besar dan terkenal. Saya mau klinik yang hadir,” jelasnya lembut namun tegas.
Alma menegaskan bahwa ia tidak mau memiliki klinik besar dan terkenal. Tetapi klinik yang hadir, ada, dan siap kapan pun dibutuhkan.
“Meski saya ditelepon tengah malam, dan kalau saya masih bangun, saya masih bisa melakukannya, saya akan do something, bukan do nothing,” lanjutnya.
“Jadi yang penting hadir. Karena kalau dalam bisnis jasa kita hadir, itu otomatis kita akan besar. Tapi kalau kita cari besarnya dulu, kita akan kelewatan hadirnya. Susah nyampainya,” tegas penyuka warna pink ini.
Menurutnya, keberagaman nama kliniknya bukan tanpa alasan. Alma tidak menginginkan ada hal buruk yang nantinya berdampak pada bisnisnya. Untuk itu, ia belajar hukum untuk masa depan bisnisnya tersebut.
“Jadi saya kelola sendiri, saya mendirikan mandiri, dari kecil sampai puji Tuhan sekarang sudah lengkap lah. Saya nggak pernah mau pakai nama yang sama atau PT yang sama. Jaga-jaga, kalau ada apa-apa,” tegas Alma yang menyarankan seseorang hendaknya belajar hukum untuk melindungi diri maupun bisnisnya.
Cegah Nyawa yang Terlambat Ditolong
Dari pengalaman bertahun-tahun, Alma belajar satu pelajaran penting yakni hewan sering baru terlihat sakit ketika kondisinya sudah parah. Banyak pemilik hewan terlalu fanatik pada satu dokter dan mau menunggu terlalu lama, menempuh jarak terlalu jauh, hingga golden time terlewat. Ia tidak ingin itu terjadi.
“Hewan tidak bisa ngomong. Kalau sudah lemas, sering kali sakitnya sudah 70 persen,” tambahnya.
Karena itu, menurut dia, membuka klinik hewan di beberapa lokasi bukan soal ekspansi, melainkan pencegahan. Agar ketika darurat datang, pertolongan tidak terlambat.
Meski demikian, Alma sangat menyayangkan pasien yang datang terlambat dan menyalahkan dirinya yang mengakibatkan kematian si anak bulu (anabul). Pasien biasanya akan menangis tersedu dan bersedih sekian waktu karena kehilangan hewan yang disayanginya.
“Saya menyediakan ruangan khusus yang kami sebut ruang pemulasaran. Di sana pasien saya persilahkan menangis sebelum akhirnya kami bersihkan dan bungkus si anak bulu tersebut. Bahkan ketersediaan tisu harus lebih banyak ketimbang obat-obatan,” kenangnya sambil tertawa kecil.
Sebagai pecinta hewan, Alma paham betul tentang bagaimana kehilangan. Tak jarang ia ikut memeluk pasien dengan penuh kasih hingga mereka dapat mengikhlaskan anabulnya.
Ikhlas dan Menolong Tanpa Hitungan
Satu hal yang Alma pelajari dalam hal bisnis dan kemanusiaan, bahwa tidak semua kebaikan akan kembali dalam bentuk uang.
Dalam dunia praktik, Alma berkali-kali berhadapan dengan kenyataan pahit. Ada pasien yang ditolong lalu menghilang. Ada kucing kecelakaan yang diselamatkan, tetapi pemiliknya tak pernah kembali. Ada biaya operasi jutaan rupiah yang tak pernah terbayar. Responsnya saat itu hanya satu: ikhlas.
“Kehilangan uang itu biasa. Kehilangan yang kita sayangi itu lebih berat,” ucapnya lirih.
Ia percaya, keikhlasan bukan berarti lemah. Keikhlasan adalah cara bertahan dari rasa kehilangan tanpa mengeraskan hati. Dan sering kali, setelah satu kehilangan, datang rezeki dari arah yang tak disangka menutup luka yang lain.

Menjalani Banyak Peran dengan Kepala Dingin
Mengelola klinik, mengajar, memimpin program, dan menangani operasi berat bukan perkara ringan. Pikiran Alma sering terbagi. Tubuhnya lelah. Tapi satu hal menjaga poros hidupnya tetap tegak, yakni doa.
“Berhasil atau tidak, itu bukan urusan saya. Tugas saya berdoa dan hadir,” imbuh perempuan yang sangat religius ini.
Ia percaya, sukses bukan soal angka atau seberapa besar nama dikenal. Sukses adalah damai, mampu tersenyum di tengah lelah, dan tetap lembut di tengah tekanan.
Perjalanan drh. EST. Alma Erina M.Si. adalah kisah tentang memilih hadir, ketika banyak orang memilih pergi. Tentang membiarkan empati masa kecil tumbuh menjadi jalan hidup. Tentang klinik yang bukan sekadar tempat berobat, tetapi ruang aman, bagi hewan, manusia, dan air mata.
“Semakin saya belajar tentang makhluk hidup, semakin saya mencintai Tuhan. Ketika semua dikembalikan pada Tuhan, maka hidup kita sudah tercukupi. Maka sedikitpun saya tidak pernah meinggalkan Tuhan,” ungkap perempuan yang telah melewati banyak kesulitan hidup dan berhasil melaluinya dengan kekuatan doa.
Siapa sangka di balik senyum riang dan kecerdasannya, Alma mampu membawa diri sebagai perempuan tenang, yang banyak mengasihi tanpa banyak suara, menolong tanpa banyak tuntutan, karena ia tahu, ia sedang berada di tempat yang seharusnya.
*Ay



















