MESKI hakim sudah memutuskan bahwa anak yang dibawa Lestari bukanlah darah Papa, kenyataan pahit tetap tak bisa disangkal bahwa Papa memang pernah berselingkuh.
Kalimat yang dulu ia ucapkan bahwa, “Papa pernah dekat dengan Lestari”, sekarang menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Di ruang keluarga malam itu, suasana begitu mencekam. Mama duduk diam menatap lantai. Matanya kosong. Bram akhirnya meledak.
“Papa sadar nggak, ini bukan hanya soal tes DNA. Bukan cuma soal saham. Ini soal keluarga yang Papa hancurkan sendiri!”
Papa mencoba menjawab lirih, “Papa sudah salah. Papa tidak menyangka semuanya akan sejauh ini.”
Bruno menepuk meja keras. “Tidak menyangka? Selama bertahun-tahun Papa menyembunyikan ini dari kami, dari Mama. Bagaimana kami bisa percaya lagi?”
Aku memeluk Mama erat-erat. Ia berusaha tersenyum, walau jelas senyumnya penuh luka.
“Papa sudah memilih jalannya sendiri. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya menjaga agar Brajantara Construction tetap berdiri.”
Suaranya lembut, tapi nadanya getir. Mama tidak menjerit atau marah, tapi ketegarannya justru membuat kami semua menangis.
Di luar rumah, gosip masih terus beredar. Media memang menulis bahwa gugatan Lestari kalah, tetapi mereka juga menyoroti pengakuan Papa tentang masa lalunya.
“Direktur Konstruksi Terkemuka Akui Selingkuh, Bisnis Terancam Runtuh,” begitu salah satu headline yang menusuk.
Investor mulai ragu, beberapa proyek ditunda, dan nama baik perusahaan tercoreng.
Kami akhirnya sadar. Meski hasil tes DNA membebaskan Papa dari tuduhan memiliki anak di luar nikah, luka yang ditinggalkan perselingkuhannya jauh lebih dalam.
Keluarga terbelah, kepercayaan hancur, dan perusahaan terguncang.
Malam itu, Mama berkata lirih sambil menatap papan nama besar di depan kantor pusat,
“Bangunan setinggi apa pun bisa runtuh, bukan karena badai dari luar, tapi karena retakan di dalam.”
Aku menatapnya dengan air mata berlinang. Kata-kata Mama benar. Bisnis keluarga kami tidak hancur karena orang ketiga semata, tapi karena Papa sendiri yang mengkhianati fondasi kepercayaan.
(Bersambung)