TOPMEDIA – Di momen peringatan Hari Ibu, Atalia Praratya menyampaikan pesan yang sarat makna melalui akun Instagram pribadinya. Unggahan tersebut terasa istimewa karena bukan sekadar ucapan seremonial, melainkan refleksi tentang kekuatan perempuan yang kerap bertahan dalam diam.
Atalia menuliskan bahwa setiap langkah kecil yang dijalani hari ini tak pernah lepas dari doa seorang ibu yang terus mengalir tanpa henti. Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para perempuan yang memilih tetap berdiri tegak, meski kelelahan sering mereka simpan sendiri.
“Untuk seluruh perempuan hebat yang memilih bertahan, yang lelahnya sering disimpan sendiri, namun cintanya selalu dibagi tanpa sisa, terima kasih telah menjadi rumah, tempat pulang paling hangat,” tulis Atalia dalam unggahannya. Ia menutup pesannya dengan doa agar setiap langkah para ibu senantiasa dimuliakan dan dibalas dengan keberkahan berlipat.
Pesan tersebut hadir di tengah proses gugatan cerai yang diajukan Atalia terhadap suaminya, Ridwan Kamil. Keduanya diketahui telah menjalani proses mediasi dan sepakat untuk berpisah secara baik-baik.
Kuasa hukum Ridwan Kamil, Wenda Aluwi, menjelaskan bahwa mediasi dilakukan di luar Pengadilan Agama Bandung atas persetujuan majelis hakim dan dengan pendampingan mediator yang ditunjuk pengadilan. Ia menyebut terdapat sejumlah kesepakatan yang telah dicapai, namun detailnya tidak dapat disampaikan ke publik karena perkara perceraian bersifat tertutup.
Meski demikian, proses hukum gugatan cerai tetap berjalan sesuai prosedur hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Wenda menegaskan bahwa kedua pihak berada dalam kondisi baik dan berkomitmen menjalani proses ini secara normatif dan bersama-sama.
Senada dengan itu, kuasa hukum Atalia, Debi Agusfriansa, menyampaikan bahwa kliennya dan Ridwan Kamil sepakat mengakhiri rumah tangga dengan cara damai, saling menghormati, serta tetap bekerja sama dalam merawat dan membesarkan anak-anak mereka.
Narasi Hari Ibu yang disampaikan Atalia pun seolah menjadi cerminan keteguhan seorang perempuan, tetap menebar doa, cinta, dan penghormatan, bahkan di tengah fase hidup yang tak mudah. (*)

















