Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
EDUTECH

Di Balik Popularitas Roblox, Mesir Pilih Tutup Akses demi Lindungi Anak

×

Di Balik Popularitas Roblox, Mesir Pilih Tutup Akses demi Lindungi Anak

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Pemerintah Mesir resmi menghentikan akses terhadap Roblox, platform gim daring yang sangat populer di kalangan anak dan remaja. Keputusan yang diumumkan Rabu (4/2) itu dikeluarkan oleh Dewan Tertinggi untuk Regulasi Media (SCMR) sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan anak dari paparan konten digital yang dinilai berisiko.

Langkah Mesir mengikuti jejak sejumlah negara lain seperti Turki, Rusia, dan Aljazair yang lebih dulu membatasi atau memblokir platform tersebut. Isu penggunaan gawai pada anak memang tengah menjadi perhatian serius di Mesir. Presiden Abdel Fattah al-Sisi bahkan mendorong penyusunan aturan khusus untuk membatasi pemakaian ponsel pintar sejak usia dini, terinspirasi dari kebijakan serupa di Inggris dan Australia.

HALAL BERKAH

Di satu sisi, ponsel pintar kerap dianggap membantu orang tua memantau anak ketika berada di luar rumah. Namun di sisi lain, perangkat itu kini dipenuhi aplikasi yang belum tentu aman. Seorang ayah bernama Walid Yousri mengaku khawatir karena banyak aplikasi yang memuat konten tak layak bagi anak. Pengalaman serupa disampaikan Amal Sarhan. Ia melihat perubahan perilaku pada putranya yang berusia 13 tahun setelah aktif bermain Roblox, mulai dari ledakan emosi hingga penggunaan kata-kata kasar.

Baca Juga:  4 Fitur Casing PC Ini Jadi Kunci Utama Pendinginan Maksimal

Dorongan Regulasi dan Isu Privasi

Di parlemen, pembahasan regulasi baru terkait keamanan digital anak sedang berlangsung. Anggota dewan Walid Al-Tamami menilai campur tangan hukum diperlukan untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai “kekacauan digital” yang dapat memicu depresi hingga membuka celah pemerasan terhadap anak.

Namun, pengamat teknologi Adham Abdel Rahman mengingatkan bahwa penerapan aturan seperti verifikasi usia bukan tanpa persoalan. Proses tersebut membutuhkan data pribadi yang sensitif dan berpotensi menimbulkan perdebatan soal privasi. Karena itu, ia menilai perlu kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan perusahaan teknologi.

Menteri Urusan Parlemen Mahmoud Fawzy menyebut ada dua opsi yang sedang dikaji pemerintah: membentuk lembaga independen khusus keamanan digital anak atau menunjuk Otoritas Regulasi Telekomunikasi Nasional (NTRA) sebagai pengawas teknis utama.

Raksasa Gim Global

Roblox bukan sekadar satu gim, melainkan platform yang memungkinkan pengguna menciptakan dan memainkan jutaan gim buatan komunitas. Diluncurkan pada 2006, platform ini menggunakan bahasa pemrograman Lua dan menjadi ruang kreatif bagi anak-anak untuk membangun dunia virtual serta berinteraksi lewat avatar digital.

Didirikan oleh David Baszucki dan Erik Cassel melalui Roblox Corporation di California, platform ini berkembang menjadi perusahaan publik bernilai miliaran dolar. Pada 2024, Roblox mencatat sekitar 83 juta pengguna aktif harian dengan pendapatan mencapai US$3,6 miliar.

Baca Juga:  Rishi Sunak Jadi Penasihat di Microsoft dan Startup AI Anthropic

Meski sukses secara bisnis, Roblox menghadapi tantangan besar dalam moderasi konten. Karena jutaan gim diunggah pengguna setiap hari, tidak semua konten dapat disaring secara langsung. Sistem otomatis dan moderator manusia memang tersedia, tetapi konten seperti perundungan, bahasa kasar, atau tema yang tidak sesuai usia terkadang lolos sebelum akhirnya dihapus.

Alasan Pelarangan di Berbagai Negara

Turki memblokir Roblox pada Agustus 2024 dengan alasan kekhawatiran terhadap potensi eksploitasi anak serta interaksi antarpengguna yang sulit diawasi. Pemerintah setempat juga menyoroti sistem transaksi dalam gim yang dinilai berisiko mendorong perilaku mirip perjudian pada anak di bawah umur.

Di Rusia, platform ini disorot karena dianggap memuat konten yang tidak sejalan dengan hukum perlindungan anak dan nilai tradisional negara tersebut. Sementara di Aljazair dan beberapa negara Timur Tengah, peningkatan kasus perundungan siber, kecanduan gim, serta potensi penyebaran konten tak pantas melalui fitur obrolan menjadi alasan pembatasan.

Baca Juga:  5 Keunggulan Chipset MediaTek di HP Mid Range 2025

Model bisnis Roblox bertumpu pada pembelian mata uang virtual bernama Robux. Dengan uang sungguhan, pengguna dapat membeli item digital atau akses fitur tertentu. Skema ini memicu kekhawatiran karena anak-anak sering kali belum memahami nilai uang dan berpotensi menghabiskan dana dalam jumlah besar tanpa kontrol.

Peran Orang Tua Jadi Kunci

Di tengah perdebatan global, para orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak di dunia digital. Komunikasi terbuka menjadi langkah awal yang krusial. Orang tua perlu mengetahui gim yang dimainkan anak, dengan siapa mereka berinteraksi, serta bagaimana pengalaman mereka selama bermain.

Fitur kontrol orang tua yang tersedia di Roblox maupun pada perangkat ponsel juga dapat dimanfaatkan. Pengaturan ini memungkinkan pembatasan percakapan, penyaringan konten sesuai usia, hingga penguncian pengaturan dengan PIN. Pembatasan waktu layar turut membantu menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan kegiatan lain.

Lebih jauh, literasi digital sejak dini menjadi bekal penting. Anak perlu memahami risiko membagikan informasi pribadi dan diajarkan untuk segera melapor jika menghadapi situasi mencurigakan. Dengan pendampingan yang tepat, pemanfaatan teknologi dapat tetap memberi manfaat tanpa mengorbankan keamanan. (*)

TEMANISHA.COM