TOPMEDIA – Kinerja penjualan eceran di Kota Surabaya pada Desember 2025 diprakirakan tetap mencatatkan pertumbuhan positif, baik secara tahunan maupun bulanan.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) bulan tersebut diperkirakan mencapai 500,4 atau tumbuh 17,0 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan meski pertumbuhan sedikit melambat dibandingkan November 2025 yang tercatat 21,4 persen (yoy), aktivitas konsumsi masyarakat tetap terjaga.
“Hasil Survei Penjualan Eceran menunjukkan kinerja penjualan eceran Kota Surabaya pada Desember 2025 diprakirakan tetap tumbuh positif. Hal ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru,” ujarnya, Jumat (16/1/2025).
Secara sektoral, pertumbuhan penjualan eceran Desember 2025 ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.
Subkelompok sandang juga diperkirakan mencatatkan peningkatan. Sementara itu, beberapa kelompok usaha seperti perlengkapan rumah tangga lainnya dan peralatan informasi serta komunikasi mulai menunjukkan perbaikan meski masih dalam fase kontraksi.
Dari sisi bulanan, penjualan eceran Desember 2025 diprakirakan tumbuh 0,9 persen (month to month/mtm), melambat dibandingkan November 2025 yang tercatat 1,3 persen (mtm).
Pertumbuhan ini didorong oleh kelompok usaha yang berada dalam fase ekspansi, khususnya peralatan informasi dan komunikasi, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori.
Pada November 2025, IPR Surabaya tercatat 496,1 atau tumbuh 21,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tumbuh 19,1 persen (yoy).
“Peningkatan kinerja penjualan eceran Surabaya pada November 2025 sejalan dengan tren nasional, yang menunjukkan daya beli masyarakat masih relatif kuat,” kata Ibrahim.
BI Jatim mencatat ekspektasi pelaku usaha penjualan eceran masih cukup optimistis. Responden memperkirakan penjualan akan meningkat pada Februari 2026 dengan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) sebesar 175,6, lebih tinggi dibandingkan Januari 2026.
Peningkatan ini dipengaruhi oleh momen HBKN Imlek. Namun, pada Mei 2026 penjualan diprakirakan melambat dengan IEP sebesar 161,0, seiring berkurangnya hari operasional akibat cuti bersama HBKN Idul Adha dan Hari Raya Waisak.
Dari sisi harga, tekanan inflasi Februari 2026 diprakirakan meningkat dengan Indeks Ekspektasi Harga Umum naik menjadi 169,5. Sementara pada Mei 2026, tekanan inflasi diperkirakan relatif stabil.
“Ekspektasi harga masih berada pada level yang relatif tinggi, seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat pada berbagai momentum hari besar keagamaan,” pungkas Ibrahim. (*)



















