TOPMEDIA – Nama Yudo Sadewa mendadak ramai dibicarakan publik usai kemunculannya dalam sebuah siaran langsung di kanal milik Bigmo. Bukan karena latar belakang keluarganya sebagai putra pejabat negara, melainkan karena sikap dan gaya hidupnya yang justru jauh dari kesan elitis.
Dalam perbincangan santai tersebut, Bigmo mengaku langsung merasakan kejanggalan sejak awal pertemuan. Yudo hadir tanpa atribut kemewahan yang kerap dilekatkan pada anak pejabat. Tak ada mobil mewah, sopir pribadi, apalagi pengawalan ketat.
Yang paling membuat Bigmo tercengang adalah cara Yudo datang ke lokasi. Ia memilih mengendarai sepeda motor Yamaha Xmax dan melaju seorang diri dari Bogor. Tanpa protokoler, tanpa iring-iringan, perjalanan itu dilakoni dengan santai seolah hal yang sepenuhnya biasa.
Keheranan Bigmo justru disambut Yudo dengan tawa ringan. Ia tampak tidak memahami mengapa pilihannya naik motor dianggap istimewa. Bagi Yudo, berkendara sendiri bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Obrolan kemudian mengalir ke topik lain yang tak kalah mengejutkan, yakni dunia kripto. Dengan nada datar, Yudo mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami kerugian besar dalam trading bitcoin. Nominal yang disebutkan terbilang fantastis, namun cara ia menyampaikannya tetap santai, tanpa drama.
Sikap terbuka itu kembali memancing rasa heran Bigmo. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu transparan soal harta dan kerugian, sekaligus tetap tampil sederhana? Pertanyaan tersebut dijawab Yudo dengan lugas. Ia mengaku memang tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain dan lebih nyaman menjalani hidup apa adanya.
Dalam pernyataannya, Yudo bahkan sempat menyentil gambaran umum tentang anak pejabat yang kerap identik dengan pengawalan dan sirene. Sindiran itu disampaikannya tanpa nada menggurui, justru dengan candaan ringan.
Kisah singkat pertemuan di ruang live streaming itu pun menjadi potret kontras di tengah sorotan publik terhadap gaya hidup keluarga pejabat. Tanpa kemewahan berlebih dan tanpa jarak sosial, Yudo Sadewa menghadirkan gambaran lain: bahwa di tengah kekuasaan dan kekayaan, kesederhanaan tetap bisa dipilih sebagai sikap hidup. (*)

















