Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Dari Vancouver ke Senayan: Jejak Foto Ikonik Soeharto dan Arah Jatuhnya Sang Penguasa Orde Baru

×

Dari Vancouver ke Senayan: Jejak Foto Ikonik Soeharto dan Arah Jatuhnya Sang Penguasa Orde Baru

Sebarkan artikel ini
Foto ikonik Soeharto melambaikan tangan.@studisejarah.
toplegal

TOPMEDIA-Foto Presiden Soeharto sedang melambaikan tangan ketika tiba pada pertemuan APEC di Vancouver, Kanada, pada 25 November 1997, hingga kini masih beredar luas di jagat maya.

Dalam unggahan media sosial, foto tersebut sering dipadukan dengan berbagai meme yang menggambarkan situasi politik Indonesia menjelang kejatuhan Orde Baru.

HALAL BERKAH

Gambar yang tampak sederhana seorang presiden tersenyum dan melambaikan tangan justru menjadi penanda kontras dari kondisi Indonesia yang beberapa bulan kemudian mengalami keterpurukan besar.

Tak banyak yang menyangka bahwa momen ketika Soeharto menghadiri forum internasional bergengsi itu adalah salah satu penampilan terakhirnya dalam posisi penuh wibawa sebagai kepala negara yang berkuasa selama tiga dekade.

Kurang dari setahun setelah foto itu diambil, gelombang protes mahasiswa di Senayan, krisis ekonomi yang menghancurkan fondasi negara, serta tekanan politik dari berbagai pihak memaksa Soeharto mengakhiri masa kekuasaannya pada 21 Mei 1998.

Artikel ini akan mengurai perjalanan panjang dari foto ikonik tersebut hingga ke momen bersejarah lengsernya Soeharto, dengan fokus mendalam pada dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang melatarbelakanginya.

1. Foto di Vancouver: Senyum di Atas Gejolak yang Tak Terlihat

Pada 25 November 1997, delegasi Indonesia tiba di Vancouver untuk menghadiri pertemuan APEC. Soeharto, yang saat itu berusia 76 tahun, tampil dengan senyum khasnya. Seolah tidak ada masalah yang mengganggu, ia melambaikan tangan ke arah kamera. Sorotan media internasional masih melihatnya sebagai tokoh penting di Asia, pemimpin negara berkembang yang dianggap berhasil menjaga stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, dunia tidak melihat apa yang sedang berlangsung di Indonesia. Pada pertengahan 1997, krisis moneter Asia mulai menghantam Thailand dan Korea Selatan, lalu merembet dengan cepat ke berbagai negara Asia termasuk Indonesia. Nilai rupiah merosot tajam, bank-bank kolaps, dan kepercayaan investor menghilang.

Meskipun demikian, di Vancouver Soeharto tetap bersikap tenang. Para pendukung Orde Baru yang masih kuat di dalam negeri berusaha meyakinkan publik bahwa Indonesia “baik-baik saja.” Tetapi kenyataan jauh dari itu. Foto tersebut menjadi ironi sejarah: potret presiden yang tampak kuat, padahal fondasi kekuasaan yang ia bangun sejak 1966 sedang retak dari dalam.

Baca Juga:  Viral! Rhoma Irama Jadi Khatib Salat Jumat di Pestapora, Sampaikan Khutbah tentang Maulid Nabi

2. Indonesia 1997: Ketika Krisis Bukan Sekadar Angka

Untuk memahami betapa besar guncangan yang terjadi, penting melihat situasi ekonomi Indonesia pada masa itu. Sebelum krisis, dunia memuji Indonesia sebagai “Macan Asia yang baru tumbuh.” Pertumbuhan ekonomi stabil di angka 7–8% per tahun. Infrastruktur dibangun di mana-mana, investasi asing mengalir, dan kelas menengah mulai berkembang.

Namun semua itu tidak bertumpu pada struktur ekonomi yang kokoh. Banyak sektor dikuasai konglomerat yang dekat dengan kekuasaan. Sistem perbankan lemah, penuh kredit macet, dan sarat praktik korupsi. Ketika krisis moneter menghantam Thailand, Indonesia ikut terseret. Rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.300 per dolar AS anjlok hingga menyentuh lebih dari Rp17.000 per dolar hanya dalam beberapa bulan.

Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat rakyat menjerit. Perusahaan-perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja massal. Mahasiswa, kelas menengah, hingga masyarakat kecil merasakan dampaknya secara langsung. Sementara itu, elite politik Orde Baru masih bersikap seakan semuanya terkendali.

Krisis ekonomi menciptakan ketidakpercayaan baru pada pemerintahan Soeharto. Di sinilah awal dari retaknya stabilitas Orde Baru.

3. Soeharto Mengabaikan Tanda Bahaya

Sebagian dokumentasi sejarah menyebut bahwa Soeharto tidak sepenuhnya menyadari kedalaman krisis yang terjadi. Lingkaran dalam rezim Orde Baru sering menutupi informasi kritis atau menyampaikan laporan yang terlalu optimistis. Ketika IMF menyarankan berbagai reformasi ekonomi, termasuk menutup bank bermasalah dan mengurangi intervensi pemerintah, Soeharto menyetujuinya—tetapi dalam praktiknya banyak kebijakan hanya dijalankan setengah hati.

Di tengah krisis itu, ia tetap melanjutkan perjalanan ke Vancouver untuk menghadiri KTT APEC. Para kritikus melihatnya sebagai tanda bahwa Soeharto tidak memahami urgensi situasi di tanah air.

Foto di Vancouver menggambarkan ketenangan yang tidak sejalan dengan realitas Indonesia. Bagi sebagian orang, foto itu kini dianggap simbol dari jarak antara penguasa dan rakyatnya menjelang kejatuhan rezim.

Baca Juga:  Penelitian Ungkap Cara Sederhana Menjaga Otak Tetap Muda

4. Mahasiswa Bangkit: Senayan Menjadi Pusat Perlawanan

Sejak awal 1998, mahasiswa dari berbagai kampus mulai turun ke jalan. Mereka menuntut:

  • Reformasi total
  • Penghapusan KKN (korupsi, kolusi, nepotisme)
  • Amandemen UUD 1945
  • Pembubaran dwifungsi ABRI
  • Soeharto mundur

Aksi mereka semakin terorganisasi dan meluas. Kampus-kampus besar seperti UI, UGM, ITB, UNAIR, ITS, dan lain-lain menjadi pusat konsolidasi. Gelombang demonstrasi tidak lagi hanya di sekitar kampus, tetapi mulai bergerak ke pusat kekuasaan: Senayan.

Gedung DPR/MPR menjadi simbol tuntutan rakyat. Mahasiswa menilai lembaga yang seharusnya mewakili suara rakyat justru menjadi perpanjangan tangan Orde Baru. Mereka menuntut DPR mengambil sikap.

Pada periode inilah gerakan mahasiswa menunjukkan kedewasaan politik yang luar biasa. Tidak hanya turun ke jalan, mereka membangun jaringan, mengatur logistik, dan menciptakan ruang diskusi terbuka. Bagi banyak mahasiswa, reformasi adalah jalan untuk menyelamatkan masa depan Indonesia.

5. Kerusuhan Mei 1998: Puncak dari Kemarahan Sosial

Gejolak politik mencapai titik tertinggi pada Mei 1998. Setelah tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti akibat tindakan aparat pada 12 Mei, suasana Jakarta meledak menjadi kerusuhan besar yang merenggut banyak korban jiwa dan memicu perusakan serta penjarahan di berbagai titik kota. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling gelap dalam sejarah modern Indonesia.

Masyarakat yang sebelumnya hanya terpukul secara ekonomi kini dilanda ketakutan. Dalam situasi kacau itu, kepercayaan pada pemerintah semakin hancur. Mahasiswa semakin yakin bahwa perubahan besar hanya dapat tercapai apabila Soeharto mundur.

Kerusuhan Mei 1998 menjadi titik balik. Setelah tragedi tersebut, manuver politik mulai bergerak cepat menuju kejatuhan Orde Baru.

6. Pendudukan Gedung DPR/MPR: Simbol Kemenangan Gerakan Mahasiswa

Pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR. Mereka tinggal di halaman gedung, tidur beralas koran dan terpal, serta meneriakkan tuntutan pembaruan nasional. Momen ini terekam dalam sejarah sebagai penguasaan simbolik gedung rakyat oleh rakyat itu sendiri.

Baca Juga:  Diva Jadi Atlet! Krisdayanti Siap Bertanding di Kejuaraan Wushu Internasional di China

Yang menarik, mahasiswa tidak melakukan perusakan. Mereka menjaga kebersihan, saling berbagi makanan, dan menghindari tindakan provokatif. Media nasional dan internasional menyoroti aksi damai itu sebagai bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu menunjukkan kedewasaan moral di tengah krisis nasional.

Pendudukan gedung ini membuat posisi Soeharto semakin terjepit. Tekanan tidak lagi hanya dari mahasiswa, tetapi juga dari elite politik, tokoh agama, masyarakat sipil, dan bahkan sebagian petinggi militer.

7. Soeharto Kehilangan Dukungan: Titik Tanpa Balik

Dalam politik, seorang pemimpin jatuh bukan hanya karena serangan lawan, tetapi karena kehilangan dukungan dari para pendukung. Hal itulah yang terjadi pada Soeharto.

  • Beberapa tanda kehilangan legitimasi terlihat jelas:
  • Banyak menteri kabinet menyatakan mundur.
  • Partai Golkar mulai mengambil jarak.
  • ABRI terpecah dalam sikap menghadapi situasi politik.
  • Para cendekiawan dan tokoh agama menyerukan reformasi total.

Soeharto mencoba menawarkan langkah kompromi, termasuk membentuk “Komite Reformasi” dan menggelar pemilu lebih awal. Namun, tawaran itu dianggap hanya taktik untuk mempertahankan kekuasaan.

Tekanan memuncak ketika beberapa menteri kunci menolak bergabung dalam kabinet baru yang sedang ia rencanakan. Pada titik ini, jalan keluar bagi Soeharto semakin sempit.

8. 21 Mei 1998: Soeharto Akhirnya Mengundurkan Diri

Pada pagi hari tanggal 21 Mei 1998, Soeharto tampil di Istana Merdeka. Dengan suara tenang dan nada yang berat, ia menyatakan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian dilantik sebagai penggantinya.

Pidato singkat itu menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru yang berlangsung selama 32 tahun. Peristiwa ini menjadi era baru bagi Indonesia—era Reformasi, yang membawa harapan akan pemerintahan yang lebih demokratis, transparan, dan berpihak kepada rakyat.

Foto Soeharto melambaikan tangan di Vancouver kini menjadi simbol ironi sejarah: pertemuan internasional penuh optimisme, hanya beberapa bulan sebelum kejatuhan rezim.

TEMANISHA.COM