Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Dampak Jangka Panjang Makanan Ultra-Proses, Usus hingga Risiko Kematian

×

Dampak Jangka Panjang Makanan Ultra-Proses, Usus hingga Risiko Kematian

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah belakangan menjadi sorotan publik setelah sebagian menu yang disajikan disebut masuk dalam kategori makanan ultra-proses. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai dampak makanan jenis tersebut terhadap kesehatan tubuh jika dikonsumsi terlalu sering.

Makanan ultra-proses merupakan produk olahan industri yang umumnya tersusun dari lebih dari satu bahan dan melalui proses pengolahan yang cukup kompleks. Jenis makanan ini biasanya mengandung berbagai zat tambahan seperti pengawet, pengemulsi, pemanis, pewarna, hingga perasa buatan.

HALAL BERKAH

Kandungan bahan tambahan tersebut membuat makanan ultra-proses memiliki masa simpan yang lebih lama dibandingkan makanan segar atau makanan rumahan.

Beberapa contoh makanan yang masuk kategori ini antara lain sosis, roti produksi massal, sereal sarapan, sup instan, keripik, biskuit, es krim, yogurt rasa buah, permen, kue kering, hingga minuman berkarbonasi.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh jika makanan ultra-proses dikonsumsi secara berlebihan?

Baca Juga:  Momen Ramadan Pertama Ameena, Atta Pilih Cara Bijak Ajarkan Arti Menahan Lapar

Menurut British Heart Foundation, makanan ultra-proses umumnya memiliki kadar gula, garam, dan lemak jenuh yang tinggi. Jika terlalu sering dikonsumsi, makanan ini dapat mengurangi porsi asupan makanan bergizi lain yang sebenarnya lebih dibutuhkan tubuh.

Selain itu, zat aditif yang terkandung di dalamnya juga diyakini dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Bukan hanya kandungannya, proses pengolahan makanan pun turut memengaruhi cara tubuh merespons makanan tersebut.

Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa tubuh menyerap lemak lebih sedikit saat kacang dikonsumsi dalam bentuk utuh dibandingkan ketika sudah digiling dan minyaknya dilepaskan.

Dikutip dari Stanford Medicine, ahli gizi peneliti di Stanford Prevention Research Center, Dalia Perelman, menjelaskan bahwa makanan ultra-proses cenderung miskin kandungan nutrisi penting.

“Makanan-makanan ini cenderung rendah serat, mikronutrien, dan fitokimia, di mana tubuh kita membutuhkan itu semua,” kata Perelman.

Konsumsi berlebihan makanan ultra-proses dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari obesitas, sindrom metabolik, penyakit jantung, gangguan pembuluh darah otak, depresi, kecemasan, kanker, hingga peningkatan risiko kematian.

Baca Juga:  Momen Bahagia Nadin Amizah dan Faishal Tanjung, Pernikahan Uniknya Penuh Makna

Sebuah tinjauan pada 2024 yang melibatkan hampir 10 juta partisipan dari 45 analisis menemukan bukti kuat bahwa konsumsi tinggi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 50 persen dan risiko kecemasan sebesar 48 persen.

Tak hanya itu, studi tersebut juga menunjukkan indikasi kuat bahwa makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung sebesar 66 persen, obesitas 55 persen, gangguan tidur 41 persen, dan diabetes tipe 2 sebesar 40 persen.

Dampak lainnya juga terlihat pada kesehatan saluran pencernaan, terutama usus.

“Penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan ultra-proses, yang umumnya rendah serat, merugikan kesehatan usus,” ujar Perelman.

“Hal ini karena makanan tersebut cenderung mudah dicerna, dan komponen-komponennya diserap dengan cepat ke dalam aliran darah,” lanjut dia.

Selain rendah serat, zat tambahan seperti pengemulsi juga menjadi perhatian khusus. Bahan ini digunakan untuk menyatukan zat-zat yang secara alami sulit bercampur, namun berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.

Baca Juga:  Mattel Rilis Barbie "Indonesia" Berbusana Batik Sebagai Penghormatan terhadap Warisan Budaya

Perelman menjelaskan bahwa pengemulsi dapat melemahkan lapisan pelindung usus sekaligus memicu gangguan pada bakteri baik di dalam sistem pencernaan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Gastroenterology pada 2022 menemukan bahwa konsumsi makanan yang mengandung pengemulsi karboksimetilselulosa berdampak pada perubahan mikrobiota usus.

Dalam penelitian tersebut, para partisipan mengalami perubahan komposisi bakteri usus, penurunan molekul kecil yang bermanfaat dalam metabolisme feses, serta meningkatnya rasa tidak nyaman di area perut setelah makan.

Bahkan pada dua partisipan, mikrobiota usus ditemukan menembus lapisan lendir bagian dalam usus besar yang seharusnya steril. Kondisi ini dianggap sebagai salah satu tanda awal terjadinya peradangan usus.

Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait dampak jangka panjang konsumsi makanan ultra-proses, terutama jika dikonsumsi secara rutin dan dalam jumlah berlebihan. (*)

TEMANISHA.COM