TOPMEDIA – Ada persoalan tersendiri di tengah gagasan Presiden Prabowo Subianto menggaungkan ‘Gentengisasi’, yakni mengganti bahan atap yang semula pakai seng atau asbes menjadi genteng tanah liat. Gerakan masif ini menjadi sorotan publik, termasuk produsen genteng.
Seorang produsen genteng, Fajrian, mengatakan gerakan Gentengisasi memiliki tujuan yang bagus, yakni melindungi penghuni dari rasa panas. Ia juga mengakui genteng tanah liat memang lebih baik daripada seng yang cenderung panas. Secara estetika juga lebih bagus.
Namun, kata Fajrian proses pembuatan genteng secara masif cukup berat untuk direalisasikan. Pasalnya, bahan untuk membuat genteng tanah liat semakin sulit diperoleh, bahkan cenderung dilindungi.
“Masalahnya tanah sawah digali dibuat genteng. Jadi dengan programnya Pak Prabowo dengan ketahanan pangan itu mungkin agak sedikit (kontradiktif),” ujar Fajrian, Kamis (5/2/2026).
Ia pun menjelaskan genteng tanah liat terbuat dari tanah sawah, sedangkan pemerintah sedang mendorong swasembada pangan. Jika tanah sawah terus digunakan secara besar-besaran, kualitas padi juga dapat menurun.
Setiap lapisan tanah sawah menghasilkan kualitas dan karakteristik genteng yang berbeda. Tanah yang digali semakin dalam akan menurunkan kualitas genteng, hasilnya bisa pecah atau menyusut.
“Contohnya di Plered, Purwakarta itu mungkin sekarang sudah susah untuk genteng tanah mendapatkan kualitas tanah yang bagus karena kan sudah lama banget berapa tahun digali, dibikin genteng. Akhirnya lapisan pertamanya udah nggak ada,” jelasnya.
Kemudian, mekanisme program melalui Koperasi Merah Putih juga menimbulkan pertanyaan. Menurut Fajrian produksi skala koperasi akan dilakukan dengan sistem manual sehingga menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Dengan begitu, semakin banyak pohon perlu ditebang sambungnya.
“Kalau dengan manual, nggak mungkin dengan gas mereka pembakarannya, pasti dengan kayu bakar. Berarti merusak lingkungan lagi,” katanya.
Di sisi lain, proses pembuatan genteng tanah liat tidak mudah. Proses pembakaran harus dilakukan dengan suhu yang tepat serta waktunya bisa sampai 48 jam. Kemudian proses pengeringan juga membutuhkan kondisi yang tepat dan waktu yang lama.
“Kalau cuacanya lagi bagus, dia bisa 2-3 minggu deh pengeringannya. Tapi kalau cuacanya lagi terik, mataharinya lagi kemarau, itu gentengnya bisa pecah semua,” ucapnya.
Lanjutnya, gentengisasi lebih mungkin untuk dijalankan kalau menggunakan pabrik besar dengan sistem otomatis. Pabrik ini menghasilkan lebih banyak produk dengan efisien.
Bahan bakar yang digunakan adalah gas alam. Alat bakar dengan gas alam cukup mahal sehingga tidak cocok untuk pabrik melalui koperasi.
Selanjutnya, pemerintah dapat mempertimbangkan bahan genteng lain. Tak harus tanah liat, ada material lain yang lebih mudah dibuat dan berasal dari sumber yang lebih ramah lingkungan, misalnya genteng beton atau genteng dari olahan sampah plastik.
Genteng beton misalnya, ini lebih mudah memperoleh bahan dan pembuatannya lebih sederhana. Proses produksinya tidak melalui pembakaran melainkan perendaman. Waktu pengerjaannya pun tidak sampai berminggu-minggu. (*)



















