TOPMEDIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti keberadaan virus Nipah pada kelelawar buah di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan kasus infeksi virus Nipah pada manusia di Tanah Air.
Ahli Kesehatan Masyarakat bidang Biostatistika Epidemiologi, Dr Windhu Purnomo, dr MS, menegaskan bahwa pemerintah belum pernah mengumumkan adanya kasus manusia yang terinfeksi virus tersebut.
“Secara epidemiologi, sampai hari ini belum ditemukan kasus virus Nipah pada manusia di Indonesia. Artinya, belum ada satu pun kasus yang diumumkan pemerintah,” ujarnya, Jumat (13/2).
Namun, ia mengingatkan bahwa ketiadaan kasus pada manusia bukan berarti ancaman bisa diabaikan. Virus Nipah telah lama dikenal di kawasan Asia dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1998 dan sejak itu dilaporkan menyebabkan wabah di sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dalam surveilans nasional yang dilakukan pada 2023–2024, peneliti menemukan material genetik (RNA) virus Nipah pada kelelawar buah atau codot.
Dari 305 sampel kelelawar buah yang diuji, empat di antaranya terdeteksi mengandung RNA virus Nipah (NiV). Temuan ini menunjukkan bahwa virus tersebut memang telah beredar di populasi hewan liar di Indonesia, meskipun belum menginfeksi manusia.
“Artinya virus ini sudah ada di Indonesia, tapi belum pada manusia. Ini penting untuk menjadi perhatian,” kata Windhu.
Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami virus Nipah. Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, konsumsi buah yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar, maupun melalui hewan perantara seperti babi pada kasus-kasus sebelumnya di negara lain.
Menurut Windhu, ancaman utama virus Nipah terletak pada tingginya Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian kasus yang dilaporkan berkisar antara 45 hingga 80 persen.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar penyakit menular lain yang pernah menjadi wabah global.
Infeksi virus Nipah pada manusia dapat menimbulkan gejala demam, sakit kepala, gangguan pernapasan, hingga radang otak (ensefalitis) yang berpotensi fatal. Karena itu, deteksi dini dan pengawasan menjadi krusial.
Meski demikian, Windhu meminta masyarakat tidak panik. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan berbasis pencegahan, bukan ketakutan berlebihan.
Langkah utama yang dianjurkan adalah menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga imunitas tubuh melalui asupan gizi yang cukup, istirahat memadai, dan menghindari kelelahan berlebihan.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi buah yang diduga telah terkontaminasi kelelawar, seperti buah yang jatuh dan terdapat bekas gigitan atau air liur hewan.
“Jangan makan buah yang sudah jatuh dan kemungkinan terkena kontaminasi. Kalau ada buah krowok atau codotan, sebaiknya tidak dikonsumsi,” ujarnya.
Temuan BRIN ini menjadi pengingat pentingnya pendekatan One Health, yakni kolaborasi lintas sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam mencegah potensi zoonosis.
Dengan pengawasan yang ketat dan perilaku pencegahan yang konsisten, risiko penularan ke manusia diharapkan dapat ditekan.
Pemerintah dan para peneliti pun diharapkan terus memperkuat sistem surveilans guna memastikan setiap potensi ancaman kesehatan masyarakat dapat terdeteksi sejak dini. (*)



















