Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Blind Spot Hukum dalam Bisnis Keluarga (4): Perkawinan Retak, Saham Diperebutkan

×

Blind Spot Hukum dalam Bisnis Keluarga (4): Perkawinan Retak, Saham Diperebutkan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi family business story. (Foto: AI generated by Chat GPT)
toplegal

KERIBUTAN itu akhirnya pecah di ruang makan, bukan di ruang rapat. Suamiku meletakkan ponselnya di meja dengan wajah tegang, sementara aku masih memegang berkas laporan keuangan perusahaan.

“Kamu lebih peduli perusahaan keluargamu daripada rumah tangga kita,” katanya tiba-tiba.

HALAL BERKAH

Aku menghela napas panjang. “Karena sekarang keduanya saling terkait. Aku tidak bisa pura-pura ini tidak ada.”

Ia tertawa pendek, getir. “Sejak kapan urusan saham jadi urusan pernikahan?”

Aku menatapnya lama. “Sejak hukum menganggap semuanya satu kesatuan.”

Hubungan kami yang dulu tenang mulai dipenuhi kecurigaan. Bukan karena cinta yang hilang, tapi karena ketakutan yang tumbuh.

Setiap keputusan bisnis terasa seperti keputusan rumah tangga. Setiap masalah rumah tangga terasa seperti ancaman terhadap perusahaan.

Di kantor, situasinya tak kalah rumit. Papa memanggilku ke ruangannya suatu pagi. Wajahnya serius, suaranya berat.

Baca Juga:  Arisan Branded yang Menghancurkan Bisnis Keluarga (3): Jerat Hutang dan Reputasi yang Hancur

“Kita harus bicara soal struktur kepemilikan,” katanya.

“Kenapa sekarang?” tanyaku.

“Karena sudah mulai ada pertanyaan dari luar. Kalau terjadi sesuatu dalam rumah tanggamu, posisi saham bisa ikut dipermasalahkan.”

Aku terdiam. Saham. Kata itu akhirnya disebut dengan terang. Selama ini kami menghindarinya, seolah tidak mengucapkannya bisa membuatnya aman.

“Pa,” kataku pelan, “saham ini milik keluarga. Tidak pernah ada niat membawanya ke urusan pribadi.”

Papa mengangguk. “Niat tidak selalu menentukan akibat.”

Hari-hari berikutnya terasa seperti medan tarik-ulur. Pengacara perusahaan mulai membicarakan skenario terburuk.

Jika perkawinan retak dan berujung konflik hukum, maka posisi saham bisa menjadi objek sengketa. Bukan karena ada niat jahat, tapi karena hukum membuka kemungkinan itu.

Mama menangis diam-diam di kamarnya. “Mama kira masalah ini hanya soal utang,” katanya lirih suatu malam. “Ternyata bisa sampai ke saham.”

Baca Juga:  Family Constitution: The Missing Rules (2): Ketika Aturan Tidak Pernah Disepakati

Aku memeluknya. Tak ada yang bisa kuucapkan. Semua terasa terlambat.

Di rumah, percakapan dengan suamiku semakin dingin. Ia mulai mempertanyakan posisiku di perusahaan, peranku, bahkan hakku.

“Kalau aku dianggap bagian dari hartamu, berarti aku juga punya hak atas apa yang kamu miliki,” katanya suatu malam.

Aku menutup mata. Kalimat itu bukan ancaman, tapi kenyataan hukum yang mulai ia pahami. Dan, justru itu yang paling menakutkan.

Aku kembali menemui pengacara. Ia mendengarkanku dengan saksama sebelum berkata, “Dalam banyak kasus, konflik perkawinan menjadi pintu masuk sengketa saham di bisnis keluarga. Bukan karena salah satu pihak berniat merebut, tapi karena tidak ada batas yang jelas sejak awal.”

Aku keluar dari ruangannya dengan langkah berat. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa terjepit. Di satu sisi, aku istri. Di sisi lain, aku bagian dari bisnis keluarga. Dua peran itu kini saling berhadapan dan bukan saling melindungi.

Baca Juga:  Family Constitution: The Missing Rules (7): Dokumen yang Seharusnya Ada Sejak Awal

Di kantor, Papa mulai lebih sering memanggil profesional eksternal. Keputusan-keputusan penting ditunda. Semua orang berhati-hati.

Bisnis yang dulu bergerak cepat kini melambat. Bukan karena pasar, tapi karena ketidakpastian di dalam.

Aku berdiri di depan jendela ruang kerjaku memandangi suasana kota yang mulai gelap.

Aku menyadari satu hal pahit bahwa ketika perkawinan mulai retak, yang diperebutkan bukan hanya perasaan, tapi juga aset, posisi, dan kuasa.

Dalam bisnis keluarga, saham sering kali menjadi medan pertempuran yang paling sunyi, tapi paling menentukan.

Nota merah itu kini bukan lagi peringatan samar. Ia telah berubah menjadi konflik nyata antara rumah tangga yang goyah dan bisnis keluarga yang ikut terancam. (*/bersambung)

TEMANISHA.COM