AKU baru benar-benar merasakan dampaknya ketika masalah datang bukan dari rumah tanggaku, melainkan dari luar. Sebuah panggilan tak dikenal masuk ke ponselku siang itu, saat aku sedang memeriksa laporan keuangan di kantor.
“Apakah benar ini nomor Ibu Brina?” suara di seberang terdengar formal.
“Iya, betul,” jawabku pendek.
“Kami dari pihak penagihan. Ini terkait kewajiban pembayaran atas nama suami Ibu.”
Aku terdiam. Suamiku memang pernah bercerita soal bisnis sampingannya, tapi ia selalu bilang semuanya terkendali. Aku tak pernah ikut campur. Itu urusannya. Aku percaya saja.
Beberapa hari kemudian, surat resmi datang ke rumah. Bukan atas namaku, tapi di bagian bawah tercantum satu kalimat yang membuat jantungku berdegup cepat, yakni tentang penelusuran aset pasangan.
Aku membaca surat itu berulang kali untuk mencoba memahami apa hubungannya dengan diriku dan perusahaan keluarga.
Di ruang tamu, aku duduk berhadapan dengan Papa. Surat itu tergeletak di meja dalam kondisi terbuka.
“Pa,” kataku pelan. “Utang ini bukan urusanku. Aku tidak pernah menandatangani apa pun.”
Papa membaca sekilas, lalu menghela napas panjang. “Secara logika, memang bukan. Tapi secara hukum, bisa lain cerita.”
Kalimat itu terasa berat. Aku mulai mengerti apa arti harta bersama yang dulu hanya kudengar sekilas. Tanpa perjanjian kawin, batas antara milikku dan miliknya menjadi kabur. Bukan hanya rumah atau tabungan, tapi juga posisiku di perusahaan keluarga.
Aku menemui pengacara lagi. Wajahnya serius saat menjelaskan.
“Selama Ibu menikah tanpa perjanjian kawin, hasil usaha yang Ibu peroleh selama perkawinan bisa dianggap bagian dari harta bersama. Termasuk penghasilan, jabatan, bahkan kepemilikan saham tertentu.”
“Berarti bisnis keluarga saya?” tanyaku ragu.
“Berpotensi ikut terdampak,” jawabnya jujur.
Aku pulang dengan kepala penuh. Di rumah, suamiku duduk dengan wajah tegang. “Aku tidak menyangka sejauh ini,” katanya lirih. “Aku kira ini hanya masalah pribadiku.”
Aku menatapnya lama. “Masalah pribadi bisa berubah jadi masalah keluarga. Bahkan bisnis keluarga.”
Sejak hari itu, aku mulai melihat bisnis keluarga dengan kacamata berbeda. Kontrak-kontrak yang kutandatangani, keputusan-keputusan yang kuambil, semuanya tidak lagi berdiri sendiri.
Ada bayangan hukum yang mengintai dan siap menarik apa pun yang dianggap satu kesatuan dalam perkawinan.
Mama kini mulai sering cemas. “Dulu Mama kira perjanjian kawin itu berlebihan,” katanya suatu malam. “Ternyata kita yang terlalu meremehkan.”
Aku tidak menjawab. Sebab terlalu banyak penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Yang ada hanya kesadaran pahit bahwa ketika harta dianggap bersama, maka risiko pun ikut bersama. Dan, risiko tidak pernah memilih waktu untuk datang.
Di titik itu aku sadar, nota merah itu bukan lagi peringatan. Ia sudah berubah menjadi kenyataan yang pelan-pelan mengetuk pintu bisnis keluarga kami. (*/bersambung)



















