HARI itu, aku mengenakan kebaya putih sederhana. Semua orang tersenyum, mengucapkan selamat dan berkata aku beruntung. Papa berdiri tegak di sampingku dengan wajah tenang. Mama memelukku erat sebelum akad dimulai. Tidak ada yang terasa salah. Tidak ada yang terasa perlu dipertanyakan.
Aku, Brina, menikah dengan keyakinan bahwa cinta dan kepercayaan sudah cukup. Sejak kecil, aku hidup di tengah bisnis keluarga. Perusahaan itu dibangun Papa jauh sebelum aku mengenal suamiku.
Bagiku, urusan pernikahan dan urusan bisnis adalah dua dunia yang berbeda. Aku tak pernah berpikir keduanya akan saling bersinggungan.
Beberapa minggu sebelum menikah, seorang kerabat sempat menyinggung soal perjanjian kawin. Aku hanya tertawa kecil. Mama pun langsung menimpali. “Tidak usah dibahas. Kita keluarga baik-baik.”
Papa mengangguk setuju. “Bisnis ini urusan keluarga. Tidak ada hubungannya dengan perkawinanmu.”
Aku pun percaya.
Tahun-tahun berlalu tanpa gejolak. Aku kembali sibuk di perusahaan, menghadiri rapat, menandatangani kontrak, ikut mengambil keputusan penting. Hidup berjalan normal.
Sampai suatu siang, aku dipanggil ke ruang pengacara perusahaan. Aku mengira ini soal dokumen rutin.
Pengacara itu menatapku lama sebelum berbicara. “Bu Brina, kami perlu klarifikasi status harta dalam perkawinan Ibu.”
Aku tersenyum santai. “Perusahaan ini milik keluarga saya. Berdiri sebelum saya menikah.”
Ia mengangguk, lalu berkata pelan bahkan hampir berbisik. “Karena tidak ada perjanjian kawin, secara hukum harta yang diperoleh selama perkawinan berpotensi dianggap harta bersama.”
Aku terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dampaknya terasa berat. Seperti nota merah yang tiba-tiba disodorkan, tanpa aba-aba.
Malam itu, aku duduk lama di ruang makan seraya menatap Papa yang sedang membaca koran. “Pa,” kataku ragu, “Kalau tidak ada perjanjian kawin, apakah bisnis keluarga bisa ikut terseret urusan perkawinan?”
Papa pun menurunkan korannya. “Selama ini aman-aman saja.”
Jawaban itu terdengar menenangkan, tapi justru membuat dadaku sesak. Aman selama belum diuji. Aman selama belum ada masalah. Tapi, hukum tidak menunggu masalah datang untuk mulai bekerja.
Aku baru menyadari satu hal yang selama ini luput kami pahami, bahwa hukum tidak bertanya tentang niat baik, cinta, atau sejarah keluarga. Ia hanya membaca dokumen.
Dan, dalam dokumen perkawinanku, tidak ada satu pun garis yang melindungi batas antara kehidupan pribadi dan bisnis keluarga.
Perjanjian kawin bukan soal mencurigai pasangan. Ia tentang melindungi sesuatu yang lebih besar dari perasaan, kelangsungan keluarga, bisnis, dan masa depan banyak orang yang menggantungkan hidup di dalamnya.
Malam itu, aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa takut. Bukan pada suamiku, bukan pada rumah tangga, tapi pada satu kesadaran pahit bahwa ada risiko besar yang kami abaikan hanya karena mengira cinta sudah cukup.
Dan, di situlah semuanya bermula. Dari sebuah nota merah yang baru dibaca setelah perjalanan terlalu jauh dilalui. (*/bersambung)



















