Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

BI Ungkap Optimisme Kredit 2026: Likuiditas Melimpah, Menanti Ekspansi Pelaku Usaha

×

BI Ungkap Optimisme Kredit 2026: Likuiditas Melimpah, Menanti Ekspansi Pelaku Usaha

Sebarkan artikel ini
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: Istimewa/Bank Indonesia)
toplegal

TOPMEDIA – Sektor perbankan Indonesia menutup tahun 2025 dengan catatan positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit sepanjang tahun lalu berhasil mencapai angka 9,69 persen (yoy), sebuah capaian yang mendarat mulus di tengah target sasaran 8 hingga 11 persen.

Namun di balik angka pertumbuhan tersebut, ada satu tantangan besar yang masih membayangi antara lain menumpuknya uang menganggur di perbankan.

HALAL BERKAH

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers daring pada Rabu (21/1/2026) di Gedung BI Jakarta mengungkapkan bahwa komitmen pinjaman yang sudah disetujui namun belum ditarik oleh nasabah (undisbursed loan) masih tergolong jumbo.

Hingga Desember 2025, nilainya mencapai Rp2.439,2 triliun atau setara dengan 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia.

Baca Juga:  Garuda Muda Siap Bertarung di Kualifikasi Piala Asia U-23, Tata dan Tony Siap Beri Motivasi Bonek!

“Pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan ini,” ujar Perry.

Meski angka ini sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp2.509,4 triliun, besarnya dana yang parkir ini menunjukkan adanya sikap hati-hati dari sektor riil dalam mengeksekusi ekspansi di lapangan.

Jika membedah struktur pertumbuhannya, kredit investasi menjadi bintang utama dengan lonjakan drastis sebesar 21,06 persen (yoy). Angka ini jauh melampaui kredit konsumsi (6,58 persen) dan kredit modal kerja (4,52 persen).

Fenomena ini mengindikasikan bahwa secara struktural, korporasi mulai membangun fondasi jangka panjang meskipun penggunaan modal kerja harian belum seagresif investasinya.

Menurut Bank Sentral tersebut, moncernya kinerja kredit ini tidak lepas dari bauran kebijakan makroprudensial. Penurunan suku bunga dan pemberian insentif likuiditas (KLM) menjadi stimulus utama yang menjaga gairah perbankan untuk tetap menyalurkan dana ke program-program prioritas pemerintah.

Baca Juga:  Prabowo Targetkan 34 Proyek Sampah Jadi Listrik, Berpotensi Hasilkan 452 MW Energi Bersih

Dari sisi kesehatan industri, perbankan Indonesia tampak sedang berada dalam kondisi fit. Hal ini tercermin dari beberapa indikator kunci:

  • Permodalan (CAR): Berada di level 26,05 persen per November 2025, sebuah angka yang sangat kuat untuk menyerap risiko.
  • Kualitas Aset (NPL): Rasio kredit bermasalah tetap terjaga rendah di angka 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto).
  • Likuiditas: Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 13,83 persen, memastikan bank memiliki cukup amunisi untuk menyalurkan kredit lebih lanjut.

Kendati demikian, perbankan masih menunjukkan sikap selektif. Pelonggaran persyaratan kredit (lending requirement) memang terjadi di hampir semua lini, kecuali pada segmen konsumsi dan UMKM. Bank tampaknya masih memasang kuda-kuda tinggi terhadap potensi risiko kredit di kedua sektor tersebut.

Baca Juga:  Diduga Tercemar Toksin, BPOM Instruksikan Nestlé Stop Distribusi Susu Formula

Memasuki tahun 2026, Bank Indonesia memasang target yang lebih optimis namun tetap terukur, dengan prakiraan pertumbuhan kredit di kisaran 8-12 persen. Kuncinya terletak pada sinergi antara otoritas moneter dan pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“Ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi untuk memperbaiki struktur suku bunga dan memitigasi risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan,” pungkas Perry. (*)

TEMANISHA.COM