Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
EDUTECH

Bersaing dengan Tiongkok, NASA Bangun Pangkalan Permanen Rp315 Triliun di Bulan

×

Bersaing dengan Tiongkok, NASA Bangun Pangkalan Permanen Rp315 Triliun di Bulan

Sebarkan artikel ini
Eugene Cernan dan Harrison Schmitt, dua manusia terakhir yang berjalan di permukaan Bulan pada 14 Desember 1972. (Foto: BBC/getty images)
toplegal

TOPMEDIA – Ambisi Amerika Serikat untuk kembali merajai Bulan memasuki babak baru yang lebih agresif. Tak mau sekadar mampir di orbit, National Aeronautics and Space Administration (NASA) resmi mengubah haluan total.

Proyek stasiun luar angkasa Lunar Gateway dipensiunkan sebelum mengorbit demi memuluskan pembangunan pangkalan permanen senilai USD 20 miliar (sekitar Rp 315 triliun) langsung di permukaan Bulan.

HALAL BERKAH

Pengumuman mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Administrator baru NASA, Jared Isaacman, dalam sebuah pertemuan strategis di Washington, Selasa (24/3). Isaacman menegaskan bahwa mulai 2027, NASA menargetkan setidaknya satu pendaratan awak di Bulan setiap tahunnya.

Keputusan Isaacman ini merupakan pivot besar dalam program Artemis. Sebelumnya, NASA berencana membangun Gateway sebagai titik transit di orbit Bulan.

Baca Juga:  5 Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Biang Kerok HP Kamu Panas

Namun demi efisiensi dan kecepatan, komponen-komponen yang sudah diproduksi oleh kontraktor seperti Northrop Grumman dan Lanteris Space Systems, kini dipaksa putar otak untuk dialihfungsikan menjadi infrastruktur darat.

“Seharusnya tidak mengejutkan siapa pun jika kami menghentikan sementara Gateway dan fokus pada operasi berkelanjutan di permukaan Bulan,” tegas Isaacman dengan lugas.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. NASA menyadari bahwa membangun infrastruktur langsung di Bulan jauh lebih strategis untuk misi jangka panjang, termasuk sebagai batu loncatan menuju Mars.

Standarisasi roket Space Launch System (SLS) juga terus dikebut agar jadwal pendaratan tahunan mulai 2027 tidak meleset.

Aroma persaingan dengan Tiongkok tercium sangat tajam di balik perubahan strategi ini. Negeri Tirai Bambu memang sedang gencar-gencarnya menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030. NASA tampaknya ogah disalip.

Baca Juga:  Hadapi Tantangan Konsumen dan Pesaing Baru, Starbucks Rencanakan Restrukturisasi Rp 16,7 Triliun

Dengan anggaran fantastis Rp 315 triliun yang dikucurkan selama tujuh tahun ke depan, AS ingin memastikan bendera Stars and Stripes tetap menjadi yang paling dominan di satelit Bumi tersebut.

Isaacman mengakui adanya tantangan berat terkait penyesuaian perangkat keras dan jadwal, namun ia optimistis komitmen mitra internasional tetap solid meski arah proyek berubah haluan dari orbit ke daratan.

“Kami menggunakan kembali peralatan dan komitmen mitra untuk mendukung tujuan program di permukaan,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM