TOPMEDIA – Bayang-bayang grup neraka kini menghantui langkah Tim Nasional Indonesia U-17 menjelang putaran final Piala Asia U-17 2026 di Arab Saudi, Mei mendatang.
Di tengah skeptisisme publik akibat hasil uji coba yang kurang memuaskan, Kepala Pemandu Bakat PSSI, Simon Tahamata, melontarkan pesan keras sekaligus menyentuh bahwa sepak bola bukan sekadar soal skor, melainkan harga diri dan keteguhan mental.
Indonesia tergabung di Grup B Piala Asia U-17, sebuah zona yang oleh banyak pengamat disebut sebagai jalur maut. Di sana telah menunggu Jepang sang juara bertahan, China, dan Qatar. Ketiganya bukan lawan sembarangan karena mereka adalah barisan negara yang pernah mencicipi takhta tertinggi sebagai juara Piala Asia U-17.
Kekhawatiran publik memuncak setelah tim asuhan Nova Arianto menelan pil pahit dalam laga uji coba di Indomilk Arena, Tangerang, baru-baru ini. Menghadapi China dalam dua pertemuan, Garuda Muda dipaksa menyerah dengan skor telak 0-7 dan kekalahan tipis 2-3.
Namun bagi Simon Tahamata, hasil buruk di laga persahabatan bukanlah kiamat. Pelatih legendaris berdarah Maluku itu justru menyoroti aspek yang lebih fundamental daripada strategi di atas lapangan, yakni mentalitas pemenang.
“Kita tidak bisa bilang kalau kita kalah dari mereka (sebelum bertanding). Kita harus setuju bahwa kita bisa menang atas mereka. Kalau tidak ada mental itu, saya bilang pulang saja, tidak usah bertanding,” ujar Simon dengan nada tegas saat ditemui di GBK Arena, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Simon mengingatkan bahwa meski lawan memiliki rekam jejak mentereng, lapangan hijau tetap memberikan ruang bagi keajaiban. “Jepang, China, Qatar, mereka semua kuat. Tapi bola itu bundar,” tambahnya.
Di balik ketegasannya soal mentalitas, Simon juga menyelipkan pesan perlindungan terhadap para pemain yang secara usia masih sangat belia. Ia meminta publik dan media untuk tidak memberikan tekanan yang berlebihan atau kritik yang destruktif kepada skuad U-17.
“Kalau orang-orang semua bilang susah, lalu apa? Bermain bola itu tidak gampang. Percayalah pada anak-anak ini. Jangan terlalu kritis, mereka baru berusia 16 tahun,” tutur Simon.
Piala Asia U-17 2026 yang akan digelar pada 5-22 Mei di Arab Saudi menjadi ujian konsistensi bagi Indonesia. Pada edisi sebelumnya di tahun 2025, Garuda Muda berhasil menembus babak perempat final, sebuah prestasi yang membawa mereka terbang ke panggung Piala Dunia U-17.
Kini, tantangannya jauh lebih berat karena harus langsung berhadapan dengan raksasa seperti Jepang di fase grup. Nova Arianto masih memiliki waktu kurang dari tiga bulan untuk membenahi celah di lini pertahanan dan mengasah ketajaman serangan.
Bagi PSSI dan Simon Tahamata, turnamen ini bukan sekadar mengejar trofi, melainkan proses pendewasaan talenta muda. Namun, syarat mutlaknya satu: mereka harus turun ke lapangan dengan dada tegak, tanpa rasa takut sedikit pun pada nama besar lawan. (*)



















