Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP FIGURES

Bayu Risanto, Imam dan Ilmuwan Indonesia yang Namanya Terbang ke Angkasa

×

Bayu Risanto, Imam dan Ilmuwan Indonesia yang Namanya Terbang ke Angkasa

Sebarkan artikel ini
Christoforus Bayu Risanto, SJ,
toplegal

TOPMEDIA – Seorang imam Katolik asal Indonesia, Christoforus Bayu Risanto, SJ, mendapat penghargaan istimewa di dunia sains. Namanya resmi diabadikan sebagai nama asteroid oleh Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN), lembaga di bawah International Astronomical Union (IAU). Asteroid tersebut tercatat dengan nama (752403) Bayurisanto = 2015 PZ₁₁₄.

Penamaan ini bukan sekadar simbol astronomi, melainkan bentuk pengakuan internasional atas kontribusi Bayu Risanto di bidang meteorologi dan ilmu atmosfer. Ia dikenal sebagai peneliti yang berfokus pada peningkatan akurasi prakiraan cuaca, khususnya di wilayah dengan keterbatasan data observasi.

HALAL BERKAH

Mengutip laman Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Senin (19/1/2026), alumnus kelahiran 1981 ini mengembangkan metode yang mengombinasikan model fisika atmosfer dengan teknik data assimilation. Ia memanfaatkan data kelembapan dari sistem GPS meteorologi yang dipadukan dengan data konvensional dari stasiun cuaca untuk menghasilkan prediksi yang lebih akurat.

Baca Juga:  Real Madrid Bungkam Real Oviedo 3-0, Vinicius Tampil Istimewa

Bergabung dengan Observatorium Vatikan

Dedikasi Bayu Risanto di dunia sains membawanya bergabung dengan Vatican Observatory atau Observatorium Vatikan. Lembaga ini merupakan pusat riset astronomi tertua di dunia yang masih aktif dan berada di bawah naungan Tahta Suci.

Kehadirannya di sana menjadi bukti kontribusi ilmuwan Indonesia dalam komunitas ilmiah global, sekaligus menunjukkan bahwa sains modern dan tradisi intelektual Gereja Katolik dapat berjalan seiring.

Raih Gelar Doktor di Amerika Serikat

Sejak awal, Bayu Risanto menempuh pendidikan lintas disiplin, mulai dari sains, meteorologi, hingga teologi. Ia meraih gelar Ph.D. di bidang Atmospheric Sciences dari University of Arizona, dengan fokus pada numerical weather prediction dan pemodelan cuaca ekstrem.

Latar belakang ini membuatnya unik sebagai imam sekaligus ilmuwan yang bekerja di persimpangan antara iman, sains, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Baca Juga:  Paula Badosa Mundur dari AS Terbuka 2025 Akibat Cedera Punggung

Penelitiannya sangat relevan bagi negara tropis seperti Indonesia, yang masih menghadapi tantangan besar dalam prakiraan hujan, banjir, dan cuaca ekstrem. Melalui pendekatan berbasis data dan model mutakhir, karyanya berkontribusi pada pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat.

Sejajar dengan Tokoh Dunia

Bayu Risanto bukan satu-satunya figur religius yang namanya diabadikan sebagai asteroid. Sebelumnya, nama-nama seperti Faustina, Ledochowska, dan Alabiano juga tercatat sebagai nama benda langit.

Masuknya nama Bayu Risanto ke dalam katalog astronomi dunia menempatkan ilmuwan Indonesia ini sejajar dengan tokoh-tokoh internasional yang kontribusinya diakui lintas negara dan disiplin ilmu.

Observatorium Vatikan sendiri secara konsisten menegaskan bahwa penelitian ilmiah tidak bertentangan dengan iman, melainkan justru memperkaya pemahaman manusia tentang ciptaan Tuhan. Keterlibatan Bayu Risanto juga memperkuat pesan bahwa Gereja Katolik aktif dalam dialog sains modern, termasuk isu perubahan iklim dan keberlanjutan bumi.

Baca Juga:  Menggemaskan, Senator Corrine Mulholland Pidato Perdana Membawa Bayi, Pidatonya Inspiratif Bagi Wanita Pekerja

Perjalanan Hidup dan Pendidikan

Bayu Risanto lahir dan dibesarkan di Bogor. Ia menempuh pendidikan di Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Magelang, sebelum bergabung dengan Serikat Yesus pada tahun 2000. Studi filsafat ia mulai pada 2003.

Dalam tesis filsafatnya, Bayu membahas konsep waktu dalam matematika serta fisika Newton dan Einstein, termasuk dampaknya terhadap cara manusia memahami pengetahuan.

Pada periode 2007–2009, ia mengajar fisika, geometri, dan sains umum di SMA Xavier, Negara Federasi Mikronesia. Setelah itu, ia menyelesaikan studi magister teologi pada 2012, lalu melanjutkan pendidikan di bidang meteorologi dan klimatologi di Amerika Serikat.

Usai meraih gelar doktor, Bayu bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di University of Arizona hingga Juli 2024, sebelum akhirnya bergabung dengan Observatorium Vatikan. (*)

TEMANISHA.COM