TOPMEDIA – Menjelang perayaan Natal 2025, Gereja Katolik Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya menghadirkan pohon Natal unik yang dibuat dari ratusan botol plastik bekas dan lebih dari 100 galon.
Pohon setinggi 12 meter ini dirakit secara swadaya oleh umat sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya mengurangi sampah plastik.
Sekretariat Gereja, Veronica Deay, menjelaskan bahwa pohon Natal ramah lingkungan ini tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga memiliki nilai sosial.
“Pohon Natal dari botol limbah plastik ini sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Setelah perayaan selesai, pohon ini akan disumbangkan ke pemulung supaya lebih bermanfaat,” ujarnya, Senin (22/12/2025).
Ide dan Proses Pembuatan
Veronica menuturkan, ide pembuatan pohon Natal dari botol plastik muncul secara spontan namun disambut antusias oleh umat.
Panitia kemudian mengusulkan gagasan tersebut kepada Romo Paroki, Paulus Johari, yang langsung menyetujuinya.
“Awalnya panitia bertanya, bagaimana kalau pohon terang dibuat dari botol bekas. Ide itu langsung disambut baik oleh Romo Paroki,” jelasnya.
Pembuatan dimulai pada 15 Desember dengan melibatkan umat yang menyumbangkan botol plastik.
Pada malam hari, pohon Natal akan menyala dengan lampu biru dari atas hingga bawah, dilengkapi hiasan sederhana.
Umat juga akan menempelkan doa dan harapan pada kertas warna-warni pada 24–25 Desember.
“Doa dan harapan itu berasal dari umat, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Intinya semua adalah doa,” kata Veronica.
Ia menekankan bahwa pohon Natal dari sampah plastik mengingatkan umat akan esensi Natal yang sederhana.
“Natal bukan tentang pesta pora semata. Kita ingin kembali pada kesederhanaan, mengingat Yesus lahir di kandang meski Ia adalah Raja,” ucapnya.
Persiapan misa Natal di gereja telah mencapai 90 persen. Diperkirakan sekitar 1.500 umat akan mengikuti misa pertama pada 24 Desember pukul 18.00 WIB, disusul tiga misa pada 25 Desember mulai pagi hingga sore.
Pohon Natal dari botol plastik bekas di Gereja Santa Perawan Maria Surabaya menjadi simbol kepedulian lingkungan sekaligus pengingat akan makna kesederhanaan Natal.
Selain memperindah perayaan, pohon ini akan disumbangkan ke pemulung agar tetap bermanfaat setelah perayaan usai.
“Kami ingin Natal tetap bermakna, sederhana, dan membawa pesan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan,” pungkas Veronica. (*)

















