TOPMEDIA –
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penambahan fasilitas penyimpanan energi nasional agar cadangan minyak mentah Indonesia bisa ditingkatkan hingga 90 hari atau setara tiga bulan. Langkah ini dinilai penting menyusul memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama setelah Iran mengambil langkah retaliasi dengan menutup Selat Hormuz pasca serangan Amerika Serikat dan Israel, yang berpotensi mengganggu suplai minyak global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus mencermati perkembangan konflik tersebut agar tidak memicu kelangkaan energi di dalam negeri, baik bahan bakar minyak (BBM) maupun LPG.
Ia mengungkapkan kapasitas penyimpanan BBM nasional saat ini maksimal hanya mampu menampung hingga 25 hari. Adapun stok BBM milik PT Pertamina (Persero) secara nasional berada di kisaran 20–23 hari.
“Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari, jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana kelazimnya. Kita enggak bisa, katakanlah teman-teman menganggap harus kita stok 60 hari. Mau isi taruh di mana? Kita nggak punya storage,” tegasnya saat ditemui di Istana Kepresidenan, Rabu (4/3).
Karena itu, Prabowo meminta agar pembangunan storage segera direalisasikan. Dengan tambahan fasilitas tersebut, cadangan energi Indonesia diharapkan mampu bertahan hingga tiga bulan. Bahlil menyebut salah satu opsi lokasi strategis untuk pembangunan berada di wilayah Sumatera.
“Makanya sekarang arahan Bapak Presiden segera kita membangun storage. Jadi bukan kita enggak punya cadangan untuk mengisi minyak, tapi sekarang mau taruh di mana? Inilah kekurangan kita, tapi tidak usah kita saling menyalahkan siapa-siapa,” ungkap Bahlil.
“Ini yang harus kita perbaiki. Dengan cara apa? Membangun storage agar cadangan kita bisa sampai dengan 3 bulan,” lanjutnya.
Di sisi lain, ia memastikan hingga kini pasokan BBM dan LPG nasional masih aman. Bahkan untuk periode satu hingga dua bulan ke depan, termasuk menjelang Lebaran 2026, pemerintah optimistis tidak akan terjadi gangguan baik dari sisi ketersediaan maupun harga.
“Sampai dengan sekarang pas belum terganggu. Tapi ke depan, kan, pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu udah pasti. Sampai dengan 1-2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear, insyaallah enggak ada masalah,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz ke negara lain, termasuk Amerika Serikat.
“Kita mengantisipasi bahwa 25 persen crude kita ambil dari Middle East, dari Selat Hormuz. Dan dari 25 persen itu kita sudah mengalihkan antisipasinya ke Amerika atau ke daerah negara-negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” jelasnya.
“Jadi kalau menyangkut LPG nggak ada masalah. Jadi relatif clear-lah. Kalau menyangkut BBM yang kita impor, kan, tinggal bensin dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East. Jadi relatif insyaallah clear, ya,” tandas Bahlil. (*)



















