Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Bahaya Whip Pink Berisi Gas Tawa, Dokter Saraf Sebut Bisa Picu Kerusakan Otak

×

Bahaya Whip Pink Berisi Gas Tawa, Dokter Saraf Sebut Bisa Picu Kerusakan Otak

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Dokter spesialis saraf mengungkap bahaya serius dari penyalahgunaan whip pink yang berisi gas tawa nitrous oxide (N2O). Menurutnya, penggunaan gas ini di luar kebutuhan medis dapat menimbulkan efek yang mirip dengan narkotika karena mampu memicu kecanduan.

Dalam dunia kedokteran, gas N2O sebenarnya digunakan sebagai obat anestesi atau pembiusan sebelum tindakan medis seperti operasi. Namun, pemakaiannya sangat dibatasi dan harus melalui pengawasan ketat dokter, karena dosis berlebihan dapat berakibat fatal.

HALAL BERKAH

Spesialis Saraf Eka Hospital Bekasi, dr. Novrialdi Kesuma Putra, Sp.N, menjelaskan bahwa pemberian N2O tidak bisa dilakukan sembarangan. Dokter harus memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu, termasuk kesehatan jantung, paru-paru, serta organ lainnya sebelum memutuskan gas tersebut aman digunakan.

Baca Juga:  Agnez Mo Mangkir Dalam Sidang Gugatan Royalti

Jika N2O diberikan terlalu banyak atau tidak sesuai perhitungan medis, dampaknya bisa sangat berbahaya, mulai dari henti napas hingga henti jantung. Risiko ini semakin besar ketika gas tersebut disalahgunakan untuk mencari sensasi euforia atau efek “nge-fly”.

dr. Novrialdi menambahkan, kelebihan gas N2O dapat tertinggal di dalam tubuh dan menumpuk di sistem saraf, bahkan sampai ke otak. Tubuh memiliki kemampuan terbatas untuk menetralisir zat tersebut. Jika jumlah yang masuk jauh lebih besar dibanding kemampuan detoksifikasi, sisanya akan mengendap.

Akibat penumpukan itu, sel-sel neurotransmitter bisa mengalami kerusakan besar. Neurotransmitter sendiri berperan penting dalam mengatur kerja otak. Jika rusak, fungsi otak pun dapat terganggu secara serius.

Baca Juga:  Siapkan Diri Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemkot Keruk Saluran hingga Tambah Rumah Pompa

Lebih memprihatinkan lagi, efek euforia yang muncul membuat banyak orang sulit berhenti. Tubuh bisa terbiasa dengan sensasi kesenangan instan tersebut, sehingga memicu ketergantungan.

Ketika pemakaian dihentikan mendadak, gejalanya mirip seperti putus obat atau sakau. Penderitanya dapat mengalami sakit kepala, sulit fokus, dan dorongan kuat untuk kembali menghirup gas tersebut.

Dokter menegaskan bahwa kecanduan N2O membutuhkan proses pemulihan yang tidak cepat. Detoks harus dilakukan perlahan dengan dukungan aktivitas positif, seperti olahraga atau kegiatan yang dapat mengalihkan keinginan kembali memakai gas tawa.

dr. Novrialdi pun menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa melawan kecanduan tidak bisa instan, tetapi harus dilakukan bertahap dengan kesadaran dan dukungan lingkungan. (*)

TEMANISHA.COM