TOPMEDIA – Kompetisi sepak bola Indonesia level bawah (Liga 4) tercoreng aksi kasar pemain. Aksi tidak terpuji dilakukan pemain yang sangat mencederai sportivitas yang ada. PSSI langsung menghukum dengan larangan bermain untuk dua pemain seumur hidup.
Adalah aksi pertama dilakukan pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar menendang dada pemain Perseta, Firman Nugraha. Hilmi melakukan tendangan brutalnya dalam laga Liga 4 Jawa Timur di Gelora Bangkalan, Madura, Senin (5/1/2026).
Hilmi langsung dipecat klub di hari yang sama atas ulahnya. Lewat pernyataan tertulis yang dibagikan klub, Putra Jaya melakukan pemberhentian kerja.
Komite Disiplin (Komdis) PSSI bereaksi. Sehari berselang, Selasa (6/1), giliran Komdis PSSI yang bereaksi. Ketua Komdis PSSI Umar Husin memberikan rekomendasi larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup.
Komdis PSSI Jatim merealisasikan rekomendasi tersebut tidak lama setelah rekomendasi Komdis PSSI pusat. Hilmi di-banned dari sepak bola nasional seumur hidup, meski sang pemain diberikan kesempatan untuk mengajukan banding.
Di lapangan lain, di hari jatuhnya hukuman kepada Hilmi, insiden lain terjadi di Liga 4 Yogyakarta. Kali ini pemain KAFI Jogja, Dwi Pilihanto menendang kepala pemain UAD FC, Amirul Mutaqqin di Lapangan Sitimulyo, Bantul, Selasa (6/1/2026).
Tendangan Dwi langsung menjadi sorotan karena topik aksi kasar masih menjadi perbincangan.
Komdis PSSI Yogyakarta mengambil langkah tegas juga, Dwi dihukum larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup.
Dua insiden ini terjadi di liga 4 fase Provinsi (Piala Gubernur). Saat ini para klub yang lolos dari fase regional (Piala Bupati/Wali Kota) sedang berjuang untuk memperebutkan tiket ke fase nasional. (*)



















