TOPMEDIA – Jumlah angkatan kerja di provinsi ini pada November 2025 mencapai 24,96 juta orang. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, angka tersebut bertambah 194,96 ribu orang dibandingkan Agustus 2025, menandakan aktivitas ekonomi yang semakin bergerak dan berdampak pada penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah angkatan kerja sejalan dengan naiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).
“TPAK di Jawa Timur pada November 2025 tercatat sebesar 74,39 persen atau naik 0,41 persen poin dibandingkan Agustus 2025,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).
Jumlah penduduk yang bekerja juga meningkat. Pada November 2025, tercatat 24,03 juta orang bekerja, bertambah 228,58 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan terbesar terjadi di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum dengan tambahan 103,59 ribu pekerja.
Sebaliknya, sektor jasa pendidikan mengalami penurunan signifikan, berkurang 56,90 ribu pekerja.
“Lapangan usaha yang mengalami peningkatan terbesar berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada sektor jasa pendidikan,” jelas Herum.
Dominasi Sektor Informal
BPS mencatat komposisi pekerja formal pada November 2025 sebesar 38,18 persen, turun tipis 0,09 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Data ini menunjukkan masih dominannya sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan Jawa Timur.
Meski demikian, indikator kualitas ketenagakerjaan menunjukkan perbaikan. Tingkat setengah pengangguran turun 1,14 persen poin, begitu pula pekerja paruh waktu yang juga menurun dengan persentase sama.
Tingkat Pengangguran Terbuka
Untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), BPS mencatat pada November 2025 sebesar 3,71 persen. Angka ini turun 0,17 persen poin dibandingkan Agustus 2025, menandakan kondisi ketenagakerjaan yang semakin membaik.
Namun, tantangan masih terlihat pada kelompok lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencatat tingkat pengangguran tertinggi sebesar 5,99 persen, disusul lulusan SMA dengan 4,86 persen.
Herum menekankan perlunya perhatian khusus terhadap kualitas dan kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
“Lulusan SMK memiliki tingkat pengangguran tertinggi, disusul lulusan SMA. Hal ini menjadi perhatian dalam upaya peningkatan kualitas dan kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri,” pungkasnya. (*)



















