TOPMEDIA – Lelaki berwajah tegas, murah senyum, energik, humble dan selalu optimis ini memiliki banyak keistimewaan. Dia adalah Ikhsan Tualeka. Pria kelahiran Pelauw, Pulau Haruku, Maluku Tengah, 22 Juli ini merupakan sosok yang mengagumkan.
Dari Maluku ke Ruang Advokasi
Di sebuah sore yang tenang, Ikhsan Tualeka duduk sambil menatap jauh seolah mengingat jejak yang telah dilewatinya. Ketika ditanya tentang titik awal perjalanan advokasinya, ia tersenyum tipis.
“Saya tumbuh dalam kultur Maluku yang penuh dinamika sosial,” katanya pelan kepada wartawan TOP Media yang mewawancarainya.
“Sejak kecil, saya melihat solidaritas, konflik, dan kemanusiaan saling berkelindan dalam ruang yang sama. Itu membentuk saya,” ucapnya membuka percakapan.
Momen itu menjadi latar ketika pada 2006, ia memimpin Moluccas Democratization Watch (MDW). Bukan sekadar organisasi, MDW baginya adalah panggilan moral.
“Saya merasa masyarakat harus jadi subjek demokrasi, bukan penonton,” ujarnya.
“MDW adalah upaya membuat demokrasi lebih dari ritual procedural, ia harus bermakna bagi manusia,” paparnya.

Dalam berbagai organisasi yang ia jalani, ia menyadari satu benang merah yang tak pernah berubah, yakni manusia itu sendiri. Bukan data, bukan struktur, melainkan manusia sebagai komunitas sosial.
“Persoalan apa pun, pada akhirnya menimpa manusia. Karena itu saya selalu tertarik pada budaya, identitas, dan struktur sosial,” ungkapnya.
Antara Tradisi, Digitalisasi dan Arah Kebudayaan
Sebagai Direktur Indonesian Society Network (ISN), Ikhsan berada pada posisi yang memaksanya melihat Indonesia dari ketinggian: luas, kompleks dan terus bergerak.
“Indonesia sedang berada di persimpangan besar,” katanya dalam sebuah diskusi ruang tertutup.
“Tradisi bertemu modernitas, digitalisasi, mengubah cara hidup kita, dan nilai budaya terus bernegosiasi dengan zaman,” lanjutnya.

Namun bagi Ikhsan, membaca dinamika sosial bukan tentang apa yang tampak di permukaan. Ia mencari pola yang lebih dalam gerak batin masyarakat.
“Masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan kita menjaga keseimbangan antara perubahan dan nilai dasar budaya kita,” katanya.
Kesadaran ini pula yang membawanya mendirikan IndoEast Network. Baginya, Indonesia Timur bukan pinggiran yang tertinggal, justru sumber kekayaan nilai yang harus diberdayakan.
“Indonesia Timur bukan tepi. Ia adalah pusat nilai dan tradisi bangsa. Tanpa memberdayakan timur, Indonesia tak bisa maju,” tegasnya.
Generasi Muda dan Pekerjaan Sunyi Menanam Nilai
Dalam berbagai program kepemudaan, Ikhsan selalu punya pendekatan yang sama, yakni memberi ruang.
“Anak muda tidak tumbuh dengan instruksi. Mereka tumbuh melalui pengalaman. Ajak mereka turun ke lapangan. Biarkan mereka melihat masyarakat dari mata pertama,” katanya.
Menurutnya, etika publik lahir dari pengalaman, bukan teori. Namun, era digital membawa tantangan baru. Ia pun sering menyampaikan kegelisahannya.
“Mereka cepat secara teknologis, tapi tidak selalu kuat secara emosional. Kita harus memastikan mereka tetap punya akar, nilai, empati dan konteks,” jelasnya.
Pengalaman Global
Ikhsan pernah mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat. Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam evolusi pemikirannya.
“IVLP membuka wawasan saya tentang pentingnya jejaring dan kolaborasi lintas sektor, juga bagaimana pencapaian Amerika yang bisa diterapkan di Indonesia. Sementara studi komunikasi politik memberi kerangka bagaimana opini publik, perilaku elite, dan relasi kekuasaan bekerja dalam sebuah masyarakat. Kombinasi dua pengalaman ini membuat saya melihat isu sosial sebagai sesuatu yang harus ditangani secara strategis, sistematis, dan berbasis data, bukan hanya moralitas,” urainya panjang.
Dari berbagai praktik global yang ia pelajari, ada satu hal yang menurutnya paling relevan untuk Indonesia yakni budaya dialog.
“Negara yang maju, biasanya tumbuh dengan dialog yang sehat. Kita punya tradisi musyawarah, tapi sering dikaburkan polarisasi. Kita harus kembali ke budaya dialog itu,” urainya bersemangat.

Dari Konflik hingga Olahraga: Jejak Peran di Berbagai Lembaga
Ketika mengingat masa-masa bekerja di Maluku Crisis Center, Ikhsan terdiam sejenak.
“Saya belajar bahwa perdamaian bukan hasil akhir, ia proses panjang. Konflik bisa berhenti, tapi luka sosial tidak cepat sembuh,” lanjutnya.
Ia pun melihat bahwa budaya dan pranata adat memiliki kekuatan besar untuk merawat hubungan yang retak. Sementara di National Olympic Academy, perspektifnya berubah. Ia melihat olahraga bukan sekadar capaian prestasi.
“Olahraga adalah ruang kohesi sosial. Ia menyatukan orang lewat disiplin, solidaritas, dan kompetisi sehat. Ia membentuk karakter bangsa,” tegas Ikhsan.

Pesan untuk Pemimpin Muda
Dalam perjalanan lintas sektor, ada satu prinsip sosial-budaya yang selalu ia jaga yakni martabat manusia.
“Dalam setiap keputusan, saya selalu bertanya apakah ini memanusiakan manusia?”
Nilai itu menjadi fondasi yang membuatnya tetap teguh di tengah berbagai arus.
Untuk para pemimpin muda, Ikhsan selalu memberi pesan sederhana namun tegas.
“Jangan menunggu momentum, ciptakan momentum. Mulai dari hal kecil. Dan jaga integritas, karena itu modal yang tidak tergantikan,” tegasnya.
Tentang keseimbangan hidup, ia hanya menekankan pentingnya hadir sepenuhnya.
“Saat bekerja, saya bekerja. Saat bersama keluarga, saya hadir. Kualitas kehadiran lebih penting dari kuantitas,” lanjutnya.
Di sela aktivitasnya, ia juga menekuni hobinya membaca, menulis dan melakukan perjalanan (traveling) yang kadang terencana, namun kadang mengikuti undangan atau dinamika pekerjaan. “Traveling memberi ruang refleksi dan perspektif baru,” katanya sambil tersenyum.
Sebuah Jalan yang Dipilih dengan Kesadaran
Perjalanan Ikhsan Tualeka bukan sekadar rangkaian jabatan atau pencapaian. Ia adalah perjalanan seseorang mencari cara paling manusiawi untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Di balik berbagai perannya, satu hal yang tetap sama adalah keyakinan bahwa perubahan sosial bermula dari manusia yang ditopang oleh dialog dan dijalankan dengan kesadaran moral.
Di tengah dunia yang cepat berubah, Ikhsan memilih berjalan dengan satu kompas: kemanusiaan.
(*Ay)



















