Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Harga Baja Global Menguat, Asosiasi Baja Soroti Permintaan Pulih dan Tekanan Pasokan

×

Harga Baja Global Menguat, Asosiasi Baja Soroti Permintaan Pulih dan Tekanan Pasokan

Sebarkan artikel ini
Pasar baja dunia menunjukkan tren kenaikan harga dipicu permintaan yang membaik di AS, Eropa, dan Asia Tenggara serta keterbatasan pasokan dari Iran. (Foto: IISIA)
toplegal

TOPMEDIA – Pasar baja global kembali menunjukkan tren penguatan harga sepanjang Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh permintaan yang mulai pulih di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Tenggara, serta keterbatasan pasokan dari Iran.

Kondisi tersebut membuat harga slab regional meningkat, diikuti pergerakan naik pada produk baja lain di berbagai kawasan.

HALAL BERKAH

Chairman The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djohan, menilai tren ini sebagai sinyal positif bagi industri baja, meski tetap diwarnai tantangan rantai pasok dan biaya produksi.

“Permintaan yang membaik di sejumlah kawasan menjadi indikator pemulihan pasar. Namun, keterbatasan pasokan dan tekanan biaya tetap menjadi faktor yang harus diantisipasi oleh pelaku industri,” ujarnya.

Baca Juga:  GPM DKPP Surabaya Digelar di Benowo, Harga Pangan Lebih Murah Jelang Idulfitri

Akbar menjelaskan bahwa harga scrap global juga mengalami kenaikan, terutama di Turki dan Amerika Serikat, sementara Eropa relatif stabil dan Tiongkok hanya mencatat kenaikan terbatas.

“Pergerakan harga scrap menunjukkan dinamika yang berbeda di tiap kawasan. Hal ini mencerminkan betapa kompleksnya pasar baja global saat ini,” katanya.

Di sisi flat product, harga ekspor HRC Tiongkok meningkat didukung biaya bahan baku yang tinggi dan penjualan domestik yang membaik.

Penurunan persediaan turut mencerminkan pemulihan permintaan. Sementara itu, harga billet di Tangshan naik seiring lonjakan konsumsi di tingkat re-roller setelah pelonggaran pembatasan produksi.

“Produsen besar seperti Shagang masih berhati-hati dengan mempertahankan harga long product. Ini menunjukkan pasar memang mulai membaik, tetapi pelaku industri tetap waspada terhadap ketidakpastian global,” tambah Akbar.

Baca Juga:  1.819 Produk Indonesia Bebas Bea Masuk ke AS

Di kawasan Asia, produsen di Taiwan dan Jepang menaikkan harga produk panjang sebagai respons terhadap kenaikan biaya bahan baku.

“Di Eropa, harga HRC tetap ketat karena keterbatasan impor, meski permintaan masih lemah. Amerika Serikat mencatat kenaikan harga HRC secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir,”tutur Akbar.

Dari sisi kebijakan, pasar baja global juga dipengaruhi penyelidikan otoritas AS terkait dugaan penghindaran bea masuk melalui produk asal Indonesia.

Ekspansi ekspor baja Tiongkok menambah tekanan harga, sementara penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Eropa membatasi impor dan memperkuat harga domestik.

Industri baja global juga tengah bergerak menuju produksi rendah karbon. Inggris mendorong peralihan dari blast furnace ke electric arc furnace sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi, meski berdampak pada tenaga kerja.

Baca Juga:  APBN Jadi Tameng, Harga BBM Aman hingga Akhir Tahun

India bahkan mengembangkan baja berbasis hidrogen melalui proyek percontohan untuk menguji kelayakan teknologi ramah lingkungan.

Akbar menilai transformasi ini sebagai arah baru industri baja dunia. “Produksi rendah karbon bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Indonesia harus bersiap menghadapi tren ini agar tetap kompetitif di pasar global,” tegasnya. (*)

TEMANISHA.COM