Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Hadapi Lonjakan Tarif Amerika, Ekspor Alas Kaki Indonesia Terancam Lesu

×

Hadapi Lonjakan Tarif Amerika, Ekspor Alas Kaki Indonesia Terancam Lesu

Sebarkan artikel ini
Lonjakan tarif dagang Amerika Serikat menekan ekspor alas kaki Indonesia. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Industri alas kaki nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS) yang melonjak dalam setahun terakhir.

Kondisi ini dinilai berpotensi menekan kinerja ekspor di tengah pemulihan ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.

HALAL BERKAH

Para pelaku usaha menyebut beban tarif membuat biaya produksi semakin tinggi, sementara daya saing produk Indonesia di pasar utama seperti AS dan Uni Eropa kian melemah.

Dampak Tarif terhadap Daya Saing

Peneliti CSIS, Yoshe Rizal Damuri, menegaskan bahwa kebijakan tarif resiprokal AS dapat memperlemah daya saing produk nasional.

“Pesaing kita tidak selalu lebih murah, tetapi mereka bisa diuntungkan oleh tarif preferensial dan aturan perdagangan yang jelas,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Yoshe menjelaskan, negara seperti Vietnam memang belum tentu memiliki biaya produksi lebih rendah dari Indonesia.

Baca Juga:  Ancaman Middle Income Trap, World Bank Desak Reformasi Iklim Usaha Indonesia

Namun, keunggulan Vietnam terletak pada akses pasar melalui perjanjian dagang bebas yang memberikan tarif lebih kompetitif.

Di Uni Eropa misalnya, Vietnam sudah menikmati tarif 0% berkat perjanjian dagang, sementara Indonesia masih menghadapi tarif tinggi.

Selain tarif, Yoshe menyoroti risiko terhadap rantai pasok dan ketergantungan pada komoditas impor yang meningkat seiring kebijakan proteksionis sejumlah negara. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi regulasi keberlanjutan yang semakin ketat.

“Kita perlu bersiap menghadapi aturan keberlanjutan yang lebih ketat dan tuntutan ketertelusuran rantai pasok,” tuturnya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk meredam beban biaya. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui digitalisasi proses produksi, perbaikan operasional, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja agar industri tetap kompetitif.

Baca Juga:  Kawasan Industri Jadi Motor Ekonomi, Sumbang Rp 6.744 Triliun Investasi

Ketergantungan Pasar AS

Data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menunjukkan Amerika Serikat merupakan pasar utama alas kaki Indonesia dengan porsi sekitar 40% dari total ekspor.

Ketua Bidang Perdagangan dan Perundingan Internasional Aprisindo, Devi Kusumaningtyas, menegaskan tarif dasar produk lokal ke AS sudah sangat tinggi.

“Sektor alas kaki itu untuk tarif masuk ke AS yang normal saja sudah paling tinggi dari semua sektor, sekitar 7%–35%. Dengan tambahan tarif resiprokal, beban bisa melonjak hingga 19% di luar tarif normal,” jelasnya.

Devi menambahkan, dalam kondisi tertentu, beban tarif bahkan bisa menembus lebih dari separuh harga barang sebelum masuk ke pasar AS.

Hal ini membuat produsen kesulitan menjaga margin keuntungan dan mengganggu rencana ekspansi.
“Dana yang seharusnya untuk investasi mesin dan peningkatan kapasitas produksi justru tersedot untuk membayar bea masuk,” ujarnya.

Baca Juga:  Hilirisasi Pertanian Jadi Strategi Utama Tingkatkan Ekspor dan Kesejahteraan Petani

Pelaku usaha berharap pemerintah dapat memperkuat negosiasi dengan AS untuk memperbaiki akses pasar. Devi menilai Indonesia masih memiliki peluang besar karena AS mengimpor 97% kebutuhan alas kaki dari luar negeri.

“Kami sangat apresiasi pemerintah yang sudah berkoordinasi dengan pelaku industri. Untuk alas kaki ini, kira-kira argumen apa yang bisa disampaikan kepada pemerintah Amerika agar tarif bisa lebih ringan,” katanya.

Indonesia saat ini menjadi eksportir alas kaki terbesar ketiga setelah China dan Vietnam. Dengan posisi strategis tersebut, pelaku industri menilai ada ruang negosiasi agar Indonesia bisa mengambil peluang lebih besar di pasar AS. (*)

TEMANISHA.COM