Oleh: Dr. Anis Tiana Pottag, S.H., M.H., M.Kn., M.M. (*)

REKOR 13 pertandingan tanpa kekalahan yang dicatat Persebaya Surabaya akhirnya terhenti pada tanggal 14, dalam laga ketika tim mengenakan jersey edisi Imlek.
Peristiwa ini memantik beragam respons publik. Ada yang melihatnya sebagai bagian normal dari dinamika kompetisi, ada pula yang mengaitkannya dengan simbol angka dan budaya.
Kombinasi antara angka 13, tanggal 14, serta atribut Imlek membentuk narasi yang terasa “terlalu pas” untuk diabaikan begitu saja.
Dalam perspektif budaya Tionghoa, angka memang memiliki dimensi filosofis. Angka 4 (四 / sì) dalam pelafalan Mandarin terdengar mirip dengan kata “mati” (死 / sǐ), sehingga dalam kepercayaan tradisional tertentu angka tersebut kerap diasosiasikan dengan kesialan.
Angka 14 (十四 / shí sì) pun, melalui permainan fonetik, bisa dimaknai secara negatif oleh sebagian kalangan. Itulah sebabnya di beberapa negara Asia Timur, angka 4 atau 14 kerap dihindari dalam penomoran lantai gedung maupun nomor kamar.
Namun, penting dipahami bahwa ini berada dalam ranah simbolik dan kepercayaan budaya, bukan faktor determinan dalam hasil pertandingan olahraga profesional.
Menariknya, angka 13 justru tidak memiliki konotasi negatif kuat dalam budaya Tionghoa, berbeda dengan tradisi Barat yang sering memandangnya sebagai angka sial.
Dalam konteks ini, 13 laga tanpa kekalahan adalah simbol konsistensi dan stabilitas performa, bukan pertanda buruk.
Penggunaan jersey edisi Imlek juga sejatinya sarat makna positif. Warna merah yang identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek melambangkan keberuntungan, energi, dan perlindungan, sementara warna emas mencerminkan kemakmuran dan kejayaan.
Secara simbolik, atribut tersebut justru merepresentasikan harapan dan optimisme. Karena itu, mengaitkan kekalahan dengan jersey Imlek secara langsung jelas tidak memiliki dasar rasional.
Dalam sepak bola modern, hasil pertandingan ditentukan oleh taktik, kesiapan fisik, konsentrasi, efektivitas penyelesaian akhir, serta kemampuan membaca dinamika permainan di lapangan.
Di sisi lain, rekor panjang tanpa kekalahan membawa konsekuensi psikologis tersendiri.
Semakin lama sebuah tim tak terkalahkan, semakin tinggi ekspektasi publik. Momentum yang semula menjadi sumber kepercayaan diri bisa berubah menjadi tekanan untuk mempertahankan catatan tersebut.
Dalam situasi seperti ini, satu kekalahan sering kali bukan sekadar soal teknis, tetapi juga soal beban mental.
Publik kemudian cenderung mencari makna di balik momen itu, termasuk melalui angka dan simbol. Karena, manusia pada dasarnya menyukai pola dan narasi yang terasa dramatik.
Namun pada akhirnya, sepak bola tetaplah permainan yang berdiri di atas realitas performa. Setiap rekor, seindah apa pun, pada waktunya akan berhenti.
Yang menjadi pembeda bukanlah pada angka keberapa kekalahan itu terjadi, melainkan bagaimana respons setelahnya.
Tim besar bukan tim yang tidak pernah kalah, melainkan tim yang mampu menjadikan kekalahan sebagai titik balik untuk kembali bangkit.
Dalam konteks ini, tanggal 14 dan angka 14 boleh saja menjadi bahan refleksi simbolik, tetapi masa depan tetap ditentukan oleh kerja keras, evaluasi, dan mentalitas untuk kembali menatap laga berikutnya dengan keyakinan yang utuh.
(*) Penulis adalah praktisi hukum, entrepreneur, dan akademisi, Founder & CEO PT TOP Innovation Group, juga pemerhati Persebaya dan tata kelola sepak bola profesional



















