
TOPMEDIA – Sekolah memang menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Seiring bertambahnya usia, pendidikan formal diharapkan mampu mendukung perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri mereka. Namun, ada hal mendasar yang sering luput dari perhatian orang tua, yakni kesiapan anak itu sendiri. Ketika anak didaftarkan ke sekolah sebelum benar-benar matang secara perkembangan, dampaknya bukan hanya terasa pada nilai akademik, tetapi juga pada kondisi emosional, perilaku, hingga hubungan sosialnya di lingkungan belajar.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hesti Lestari, menegaskan bahwa kesiapan sekolah menjadi landasan utama keberhasilan anak dalam proses belajar jangka panjang. Menurutnya, anak yang belum siap berisiko menghadapi berbagai hambatan yang bisa memengaruhi pengalaman belajar sejak awal.
Salah satu tanda yang kerap muncul adalah munculnya penolakan terhadap sekolah. Anak bisa tampak malas berangkat, sering mengeluh sakit, menangis sebelum berangkat, atau kehilangan minat mengikuti kegiatan belajar. Dalam situasi seperti ini, sekolah tak lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk bereksplorasi, melainkan terasa sebagai beban yang menekan.
Selain itu, anak yang belum memiliki kesiapan memadai juga cenderung kesulitan mengikuti pelajaran di kelas. Mereka mungkin belum mampu berkonsentrasi dengan baik, sulit memahami instruksi guru, atau belum bisa menyesuaikan diri dengan ritme belajar. Akibatnya, anak berpotensi tertinggal dibandingkan teman-teman sebayanya.
“Jika anak belum memiliki kemampuan sosial-emosional, fisik-motorik, bahasa dan komunikasi, kognitif, serta cara belajar, anak tidak akan mampu mengikuti kegiatan belajar dengan baik,” ujarnya dalam seminar daring pada Selasa, 16 Desember 2025. (*)
