Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Studi Ungkap Job Mismatch Tingkatkan Risiko Stres dan Burnout

×

Studi Ungkap Job Mismatch Tingkatkan Risiko Stres dan Burnout

Sebarkan artikel ini
Fenomena job mismatch atau pekerjaan yang tidak sesuai bidang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental pekerja. (Foto: Pinterest)
toplegal

TOPMEDIA – Kondisi ekonomi dan kebutuhan untuk bertahan hidup memaksa seseorang untuk berjuang dan mendapatkan pekerjaan. Namun tidak sedikit dari pekerja ini mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai bidang atau keahliannya.

Fenomena job mismatch, yakni kondisi ketika pekerja menempati posisi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau keahliannya, semakin sering terjadi di pasar kerja Indonesia.

HALAL BERKAH

Ketidaksesuaian bidang kerja ini bukan hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga membawa dampak serius terhadap kesehatan mental pekerja.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa job mismatch dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga burnout yang berujung pada penurunan kesejahteraan psikologis.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, dalam laporan ketenagakerjaan 2025 menyebutkan bahwa sekitar 35 persen pekerja di Indonesia mengalami job mismatch. Menurutnya, fenomena ini menjadi tantangan besar dalam dunia kerja modern.

Baca Juga:  Dorong Akses Pendidikan Gratis, Pemerintah Perluas Program Sekolah Rakyat Berasrama

“Selain menurunkan produktivitas, job mismatch juga berdampak pada kesejahteraan psikologis pekerja. Banyak dari mereka merasa tidak berkembang, stagnan, dan akhirnya kehilangan motivasi,” ujarnya.

Psikolog ketenagakerjaan, Rosatyani Puspita Adiati, menambahkan bahwa ketidaksesuaian pekerjaan sering kali membuat pekerja merasa tidak berdaya.

“Ketika seseorang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan minat atau keahliannya, muncul rasa frustrasi. Lama-kelamaan hal ini memicu stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan depresi. Kondisi ini bisa berbahaya jika tidak segera ditangani,” katanya.

Penelitian dari Universitas Airlangga yang dimuat dalam Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental menemukan bahwa kepuasan kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada karyawan yang mengalami job mismatch.

Sementara itu, sebuah tinjauan sistematis dari Ateneo de Davao University, Filipina, menyoroti bahwa career mismatch berhubungan erat dengan meningkatnya psychological distress.

Baca Juga:  Ada Perusahaan Ngemplang Pajak Pakai Rekening Karyawan, Nilainya Capai Triliunan

Analisis penelitian ini menunjukkan bahwa ketidaksesuaian karier dapat memicu depresi, burnout, dan rasa tidak puas terhadap kehidupan kerja.

Selain itu, Journal of Vocational Behavior (2022) menegaskan bahwa pekerja yang mengalami job mismatch cenderung memiliki tingkat niat untuk keluar dari pekerjaan (turnover intention) lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja sesuai bidang.

Studi ini juga menyoroti penurunan motivasi, kepuasan kerja, dan kesejahteraan psikologis sebagai dampak langsung dari ketidaksesuaian pekerjaan.

Fenomena job mismatch kini menjadi tantangan serius dalam dunia kerja modern. Selain menurunkan produktivitas, ketidaksesuaian bidang kerja terbukti berdampak negatif pada kesehatan mental pekerja. (*)

TEMANISHA.COM