Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sebut Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT Tragedi Kemanusiaan

×

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sebut Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT Tragedi Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Singgih Januratmoko (istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Kasus kematian seorang bocah usia 10 tahun di kabupaten Ngada, NTT menjadi tamparan persoalan pendidikan Tanah Air. Wakil Ketua Komisi VIII DPR Singgih Januratmoko menilai siswa SD yang bunuh diri karena permintaan buku dan pulpen sebagai pukulan berat.

Menurut politisi Golkar ini peristiwa tersebut sebagai peringatan serius bagi negara terkait persoalan kemiskinan, akses pendidikan, dan perlindungan anak.

HALAL BERKAH

“Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat menyentuh nurani. Seorang anak usia sekolah dasar seharusnya berada dalam fase tumbuh dengan rasa aman, harapan, dan semangat belajar. Ketika kebutuhan pendidikan paling dasar saja menjadi beban psikologis, maka yang gagal bukan hanya keluarga, tetapi sistem sosial dan negara,” kata Singgih, dalam keterangannya, Rabu (3/2/2026).

Baca Juga:  Musik Indonesia Timur Belum Usai, Silet Open Up Goyang Istana dengan Tabola Bale

Singgih menyinggung informasi soal latar belakang kejadian tersebut berkaitan dengan keterbatasan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan alat tulis.

Menurutnya, hal itu menunjukkan masih adanya kesenjangan serius dalam pemenuhan hak anak atas pendidikan yang layak.

“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan membebaskan anak dari rasa takut, malu, dan tekanan. Jika alat tulis masih menjadi beban keluarga miskin, maka perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas bantuan pendidikan yang selama ini digulirkan,” ujarnya.

Politisi berusia 50 tahun ini menilai tragedi tersebut mengungkapkan lemahnya deteksi dini terhadap kondisi psikososial anak. Singgih menekankan anak kerap memendam tekanan lantaran takut dimarahi atau dianggap merepotkan orang tua.

Baca Juga:  Kepala Daerah Usulkan Gaji ASN Ditanggung Pusat, Ini Jawaban Menkeu Purbaya

“Anak sering kali memendam tekanan karena takut dimarahi, dianggap merepotkan, atau tidak ingin membebani orang tua. Di sinilah peran sekolah, guru, dan lingkungan menjadi sangat krusial. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan kesehatan mental anak,” tambahnya. (*)

TEMANISHA.COM