TOPMEDIA – Kebangkitan Manchester United di bawah asuhan manajer interim Michael Carrick tidak serta-merta membuat posisi sang legenda aman di kursi kepelatihan.
Meski sukses menyapu bersih kemenangan di laga-laga awal dan mendapat dukungan masif dari barisan mantan pemain, petinggi klub dilaporkan tetap menyimpan opsi untuk mendatangkan nakhoda baru pada musim depan.
Hingga memasuki paruh kedua musim 2025/2026, Carrick telah membuktikan diri sebagai petugas interim yang efektif.
Rekor tiga kemenangan beruntun melawan tim-tim besar, termasuk kemenangan krusial 2-0 atas rival sekota Manchester City, serta kemenangan dramatis dengan skor identik 3-2 saat menjamu Arsenal dan Fulham, telah mengembalikan gairah di Teater Impian.
Eks kapten Manchester United, Wayne Rooney, menjadi salah satu sosok yang paling lantang menyuarakan agar manajemen segera mematenkan posisi Carrick.
“Saya rasa Carrick bekerja dengan sangat baik sejauh ini. Jika ia mampu menjaga konsistensi tren positif ini, pihak klub tidak punya alasan lagi untuk tidak mempermanenkannya,” ujar Rooney sebagaimana dikutip dari BBC, Rabu (4/2/2026).
Namun, romantisme antara mantan pemain dan klub tampaknya belum cukup untuk melunakkan hati para petinggi Setan Merah. Mengutip laporan dari Tribuna, manajemen United sejauh ini belum mengambil langkah konkret untuk menawarkan kontrak jangka panjang kepada Carrick.
Ada kesan pragmatis yang diambil oleh jajaran direksi. Fokus utama klub saat ini adalah memastikan tiket Liga Champions melalui finis di empat besar klasemen Premier League. Namun, pencapaian target tersebut rupanya bukan merupakan klausul otomatis bagi Carrick untuk bertahan.
Pihak klub dilaporkan akan tetap melakukan evaluasi menyeluruh di akhir musim. Nama-nama pelatih papan atas Eropa disebut-sebut telah masuk dalam kantong manajemen sebagai kandidat potensial untuk memimpin proyek jangka panjang mulai musim 2026/2027.
Ujian bagi Carrick bukan sekadar memenangkan hati suporter, melainkan membuktikan bahwa skema taktiknya memiliki kedalaman untuk bersaing dalam satu musim penuh. Masalah konsistensi sering kali menjadi ganjalan bagi manajer interim yang naik pangkat, seperti yang pernah dialami Ole Gunnar Solskjaer di masa lalu.
Carrick kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia memiliki dukungan moral dari ruang ganti dan tribun penonton. Di sisi lain, ia harus menghadapi standar tinggi manajemen baru yang menginginkan stabilitas teknis di level tertinggi.
Bagi pendukung setia United, pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal apakah Carrick mampu membawa tim ke empat besar, melainkan apakah manajemen bersedia memberikan kepercayaan penuh pada produk lokal mereka atau kembali berpaling pada nama besar dari luar Inggris. (*)



















