Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Curhat Guru Honorer, Kesulitan Masuk Dapodik hingga Minimnya Akses Informasi

×

Curhat Guru Honorer, Kesulitan Masuk Dapodik hingga Minimnya Akses Informasi

Sebarkan artikel ini
Indah Permata Sari, guru honorer yang curhat di Baleg DPR RI. (Foto: Dok TV Parlemen)
toplegal

TOPMEDIA – Indah Permata Sari, guru honorer ini menumpahkan keluhannya kepada anggota dewan di Senayan, Jakarta. Ketika berbicara soal kesejahteraan dirinya, Indah sampai menangis.

Momen tangisan guru honorer di SDN Wanasari 01 Cibitung itu terjadi ketika Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengikuti rapat dengan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.

HALAL BERKAH

Saat itu, Baleg DPR mempersilakan satu per satu guru honorer untuk berkeluh kesah.

“Saya yang namanya terdata di 265 itu yang belum masuk data pendidikan, Pak, padahal saya sudah memenuhi masa kerja, tapi sulitnya untuk masuk data pendidikan atau dapodik itu sulitnya luar biasa, Pak,” kata Indah saat rapat di ruang rapat Baleg DPR, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Baca Juga:  Siswa Sekolah Rakyat Bakal Mendapatkan Pembelajaran Kewirausahaan untuk Menambah Keterampilan

“Data pendidikan itu apa?” tanya Ketua Baleg DPR Bob Hasan.

“Dapodik, Pak,” jawab Indah.

Dalam forum tersebut, guru honorer menyampaikan keluhan terkait keterbatasan akses pendataan yang berdampak langsung pada tertutupnya peluang mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Padahal saya sudah memenuhi masa kerja, tapi untuk masuk Dapodik itu sulitnya luar biasa Pak,” kata Indah dikutip Youtube TVR Parlemen.

Indah menilai persoalan pendataan tersebut diperparah oleh minimnya informasi dari Dinas Pendidikan yang tidak tersampaikan secara merata kepada sekolah-sekolah.

Kondisi itu menyebabkan banyak guru honorer tidak mengetahui prosedur dan tahapan yang harus ditempuh. “Jadinya kita ketinggalan info,” kata Indah.

Saat proses seleksi berlangsung, Indah dan rekan-rekannya tidak memiliki akses untuk mendaftar, sehingga peluang menjadi aparatur pemerintah pupus.

Baca Juga:  IPPW Soal Pengajuan Adies Kadir ke MK: Sinyal Konsolidasi Politik Muluskan Agenda Pilkada DPRD

“Kita semua tidak bisa, Pak, tertinggal. Bahkan terbayang-bayang akan dirumahkan. Itu paling sedih sih, Pak,” kata Indah dengan suara bergetar sembari menyeka air mata.

Ia mengaku harus mencari penghasilan tambahan di luar jam mengajar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Harapan saya dan teman-teman tenaga pendidik dan guru yang lain, bisa ikut PPPK penuh waktu, paling itu sih Pak,” kata Indah.

Indah menggambarkan realitas keseharian guru honorer yang harus menjalani pekerjaan lain setelah mengajar di sekolah.

“Karena saya juga seperti yang tadi Bapak bilang, pulang mengajar jadi antar jemput laundry Pak. Mungkin itu aja yang bisa saya sampaikan,” pungkas Indah.

IndaH merupakan salah satu dari banyaknya guru di Indonesia yang memiliki keluhan serupa dan memperjuangkan kesejahteraan mereka.

Baca Juga:  Benarkah AI Deep Fake Makan Korban, Kali Ini Menteri Keuangan?

Selama ini guru honorer memang belum mendapatkan gaji dan tunjangan yang layak, sedangkan tugas dan pengorbanan mereka begitu besar.(*)

TEMANISHA.COM