Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Family Constitution: The Missing Rules (3): Semua Merasa Paling Berhak

×

Family Constitution: The Missing Rules (3): Semua Merasa Paling Berhak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi family business story. (Foto: AI generated by Chat GPT)
toplegal

KONFLIK itu tidak pernah diumumkan secara resmi. Ia tumbuh diam-diam lewat kalimat-kalimat kecil yang terdengar sepele.

“Harusnya aku yang tanda tangan.”

HALAL BERKAH

“Keputusan itu seharusnya lewat aku dulu.”

“Sejak dulu memang begitu caranya.”

Setiap orang membawa versinya masing-masing tentang bagaimana perusahaan ini seharusnya berjalan.

Bram mulai mengambil keputusan operasional tanpa berkonsultasi. Brino menahan persetujuan anggaran dengan alasan kehati-hatian. Aku yang ada di tengah mencoba menjaga agar semuanya tetap bergerak meski arah mulai tidak sejalan.

Suatu pagi, aku mendapati satu kontrak besar sudah disepakati tanpa sepengetahuanku. Aku mendatangi Bram di ruangannya.

“Kenapa ini tidak dibahas bersama?” tanyaku berusaha tetap tenang.

“Karena harus cepat,” jawabnya singkat. “Kalau terlalu banyak bicara, peluang hilang.”

Baca Juga:  Blind Spot Hukum dalam Bisnis Keluarga (4): Perkawinan Retak, Saham Diperebutkan

Aku tahu niatnya baik. Tapi niat baik tanpa batas sering kali berubah menjadi klaim sepihak.

Di rapat berikutnya, Brino mengajukan keberatan. “Risikonya terlalu besar. Keuangan belum siap.”

Bram membalas tajam. “Kalau menunggu semua angka sempurna, kita tidak akan jalan ke mana-mana.”

Suasana memanas. Papa yang duduk di ujung meja, diam lebih lama dari biasanya. Tidak ada satu pun yang berani bertanya pendapatnya. Atau, mungkin kami sudah terbiasa berjalan tanpa panduan yang jelas.

Aku menatap wajah-wajah itu dan menyadari satu hal yang mengganggu bahwa kami tidak sedang berdiskusi sebagai tim. Kami sedang mempertahankan wilayah.

Di rumah, Mama mulai sering menangis. “Dulu kalian tidak begini,” katanya lirih.

Baca Juga:  Bisnis Keluarga dan Skandal Money Laundering (TPPU) (9-Habis): Akhir Sebuah Nama

“Ya, dulu tidak ada yang diperebutkan,” jawabku pelan.

Papa akhirnya memanggilku suatu malam. “Papa salah,” katanya tanpa pembukaan. “Papa tidak pernah menentukan siapa berhak apa.”

Aku mengangguk.

“Karena Papa ingin adil.” “Dan karena itu,” lanjutnya, “Papa justru membiarkan semua orang merasa paling berhak.”

Kalimat itu terasa jujur dan menyakitkan.

Aku kembali membaca catatan tentang family constitution. Tentang bagaimana keluarga bisnis menyepakati peran sejak awal agar tidak berubah menjadi klaim ketika situasi genting.

Tentang bagaimana hak tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama, paling keras, atau paling dekat. Tapi oleh kesepakatan yang disetujui bersama.

Sayangnya, kami baru membacanya saat ego sudah telanjur tumbuh.

Baca Juga:  Cyber Greed, Hancurnya Bisnis Keluarga di Era Digital (3): Jejak di Dunia Maya

Hari itu, aku berdiri di lorong kantor mendengar dua manajer profesional berbisik.

“Kita harus ikut yang mana?”

Aku tidak punya jawaban.

Saat itulah aku sadar bahwa tanpa family constitution maka konflik keluarga bukan hanya merusak hubungan, tapi juga membuat organisasi kehilangan arah. Semua merasa paling berhak tapi tidak ada yang benar-benar memimpin. (*/bersambung)

TEMANISHA.COM