MASALAH itu tidak datang dengan suara keras. Ia hadir pelan melalui surat-surat resmi yang bahasanya rapi dan dingin. Pagi itu, sekretarisku mengetuk pintu ruanganku dengan wajah ragu.
“Bu Brina, ada surat masuk. Ditujukan ke perusahaan, tapi menyebut nama Ibu.”
Aku menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Isinya permintaan klarifikasi aset dan keterkaitan keuangan. Tidak ada tuduhan, tepatnya belum. Tapi setiap kata terasa seperti jaring yang mulai mengikat.
Aku memanggil Papa ke ruanganku. Ia membaca surat itu lama, lalu meletakkannya di meja tanpa suara.
“Jadi begini rasanya,” katanya, akhirnya. “Bisnis keluarga ikut diseret karena urusan perkawinan.”
Aku menunduk. “Aku tidak pernah berniat membawa masalah ini ke perusahaan.”
Papa menghela napas. “Hukum tidak peduli niat. Ia hanya melihat hubungan.”
Hari-hari berikutnya menjadi berat. Beberapa mitra mulai bertanya. Bank meminta penjelasan tambahan.
Tidak ada yang menuduh, tapi ketidakpastian selalu membuat orang berhati-hati. Dalam dunia bisnis, rasa ragu saja sudah cukup untuk mengubah sikap.
Suatu sore, aku duduk di ruang makan bersama Mama. Wajahnya tampak lelah.
“Kalau dulu Mama tahu dampaknya sejauh ini, Mama tidak akan menganggap perjanjian kawin itu tabu,” ungkapnya, pelan.
Aku menggenggam tangannya. “Kita semua berpikir pernikahan itu urusan hati. Kita lupa ada urusan hukum di dalamnya.”
Di rumah, suamiku semakin tertutup. Ia merasa bersalah, tapi rasa itu tidak menghapus risiko. Utang tetap utang. Surat tetap datang. Dan, perusahaan keluarga tetap berdiri di garis depan yang tidak pernah kami siapkan untuk diserang.
Aku kembali bertemu pengacara. “Masih ada jalan, kok,” ucapnya. “Tapi setiap langkah akan terasa berat. Tanpa perjanjian kawin sejak awal, ruang perlindungannya sempit,” lanjutnya.
Aku keluar dari ruangannya dengan langkah pelan. Di benakku berputar satu kenyataan pahit bahwa bisnis keluarga tidak hanya dibangun dengan kerja keras, tapi juga dengan kepercayaan banyak orang.
Dan, kepercayaan itu kini diuji oleh satu keputusan kecil yang dulu kami anggap sepele.
Malam itu, aku berdiri di balkon rumah memandangi lampu kota. Aku menyadari bahwa perkawinan bukan hanya menyatukan dua orang, tapi juga membawa konsekuensi yang bisa merembet ke mana-mana. Ke keluarga. Ke bisnis. Ke masa depan.
Dan saat itulah, aku tahu bahwa nota merah itu belum selesai memberi peringatan. Ia baru masuk ke babak berikutnya. (*/bersambung)



















