Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Kredit UMKM 2025 Terkoreksi, Perbankan Lebih Selektif Hadapi Risiko

×

Kredit UMKM 2025 Terkoreksi, Perbankan Lebih Selektif Hadapi Risiko

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sepanjang 2025 dinilai belum sepenuhnya pulih meski menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya.

Lemahnya permintaan domestik, kenaikan biaya operasional, serta keterbatasan akses pembiayaan masih menahan laju pertumbuhan sektor ini, membuat perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

HALAL BERKAH

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa perbankan cukup selektif dalam memberikan kredit pada segmen konsumsi dan UMKM.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa minat penyaluran kredit perbankan umumnya masih baik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit yang semakin longgar. Namun, pengecualian terjadi pada segmen konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit.

“Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” kata Perry.

Baca Juga:  Tapis Lampung: Warisan Budaya yang Menggerakkan UMKM Perempuan Desa Negeri Katon

Ia menambahkan, pada November 2025 pertumbuhan kredit UMKM secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 0,64% (year on year/YoY).

Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, Efdinal Alamsyah, menilai tekanan paling terasa terjadi pada segmen non-esensial yang sensitif terhadap pelemahan daya beli dan perubahan perilaku konsumen.

“Pertumbuhan UMKM berjalan lambat dan tidak merata. Segmen non-esensial menjadi kelompok yang paling tertekan karena daya beli masyarakat belum kuat,” ujarnya dikutip dari Bisnis.com.

Meski demikian, perbankan tetap menyalurkan pembiayaan ke UMKM dengan pendekatan selektif dan prudent.

“Prioritas kami adalah menjaga kualitas aset dan mengelola biaya dana, sambil memastikan setiap pembiayaan memberikan imbal hasil yang sepadan dengan tingkat risikonya,” jelas Efdinal.

Baca Juga:  Siap-Siap LPG Berganti DME Tahun Ini

Tekanan terhadap UMKM diperkirakan masih berlanjut pada 2026, khususnya pada sektor yang bergantung pada daya beli masyarakat.

Namun, peluang pertumbuhan tetap terbuka di sektor-sektor yang lebih resilien, seperti usaha penyedia kebutuhan dasar, logistik, serta aktivitas yang terhubung dengan rantai pasok.

Dari sisi segmentasi, usaha kecil dan menengah dinilai lebih stabil dibandingkan segmen mikro yang masih menghadapi tantangan pencatatan keuangan dan ketahanan arus kas.

Perbankan menitikberatkan seleksi debitur pada analisis arus kas, rekam jejak pembayaran, kinerja usaha, serta penggunaan agunan sebagai second way out.

Targetnya menjaga pertumbuhan pembiayaan tetap positif dan terkendali, sekaligus mempertahankan rasio kredit bermasalah (NPL) pada level sehat.

Baca Juga:  Lampaui Target, Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp 1.931 Triliun

Dukungan pemerintah melalui skema penjaminan, literasi keuangan, dan insentif pembiayaan produktif dinilai krusial untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan prinsip kehati-hatian. (*)

TEMANISHA.COM