TOPMEDIA – Sepak bola dan geopolitik kerap berada di dua kutub yang berbeda, namun dalam pusaran ketegangan antara Washington dan Kopenhagen, keduanya kini berada di ambang persilangan yang berbahaya. Ambisi Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mencaplok Greenland kini memicu reaksi keras dari Benua Biru.
Negara-negara Eropa mulai mempertimbangkan langkah diplomasi paling ekstrem untuk menekan Washington yakni memboikot penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara yakni AS, Meksiko dan Kanada.
Jurgen Hardt, juru bicara kebijakan luar negeri dari partai Kristen Demokrat Jerman (CDU/CSU), menyatakan bahwa boikot terhadap turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia itu bisa menjadi instrumen untuk menyadarkan Gedung Putih.
“Memboikot turnamen harus dipertimbangkan sebagai langkah terakhir untuk menyadarkan Presiden Trump terkait isu Greenland,” ujar Hardt, sebagaimana dikutip oleh harian Bild, Sabtu (17/1/2026).
Langkah ini dinilai bukan tanpa alasan. Bagi Trump, kesuksesan Piala Dunia 2026 adalah simbol supremasi dan martabat nasional. Menyerang dari sisi olahraga dianggap sebagai cara paling efektif untuk memukul ego politik Washington.
Sinyal penolakan publik pun mulai terlihat. Laporan Roya News menyebutkan bahwa hingga 10 Januari lalu, sekitar 17.000 penggemar sepak bola telah membatalkan pesanan tiket mereka. Gelombang pembatalan ini merupakan bentuk protes langsung terhadap kebijakan luar negeri AS yang dianggap ekspansif.
Di balik ketegangan ini, Greenland bukan sekadar pulau es yang luas. Bagi Gedung Putih, wilayah otonom milik Denmark ini adalah aset strategis untuk keamanan nasional. Trump berulang kali menegaskan bahwa penguasaan atas Greenland sangat krusial untuk membentengi “dunia bebas” dari pengaruh militer dan ekonomi Rusia serta China di kawasan Arktik.
Namun, argumen tersebut membentur tembok kokoh di Kopenhagen dan Nuuk (ibu kota Greenland). Otoritas Denmark dan pemerintah lokal Greenland telah menegaskan bahwa kedaulatan wilayah mereka tidak untuk diperjualbelikan. Mereka menuntut AS menghormati hukum internasional dan integritas teritorial yang telah mapan.
Sebagai catatan, Greenland telah melepaskan status koloninya sejak 1953 dan memiliki otonomi luas sejak 2009, yang memberi mereka hak penuh untuk menentukan nasib domestik sendiri.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan menjadi edisi bersejarah dengan format baru 48 tim yang berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli. Jika boikot benar-benar dilakukan oleh kekuatan sepak bola Eropa, hal ini tidak hanya akan merusak nilai komersial turnamen, tetapi juga mencoreng citra AS yang juga akan menjadi tuan rumah Olimpiade Los Angeles 2028. (*)



















