RUANG sidang terasa lebih dingin dari biasanya. Aku duduk di bangku penggugat dan menatap lurus ke depan. Sementara Papa duduk di seberang didampingi kuasa hukum. Breno yang tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang merasa benar. Mama duduk di barisan belakang, wajahnya pucat, seolah setiap kata di ruang ini adalah luka baru.
Hakim membuka sidang dengan suara datar, lalu satu per satu fakta dibacakan. Perubahan akta. Pengalihan kewenangan. Pemutusan hubungan kerja sepihak. Semua terangkum rapi. Tak lagi berupa cerita keluarga, tapi fakta hukum.
Kuasa hukumku berdiri. “Klien kami tidak tercantum sebagai pemegang saham, benar. Tapi selama lebih dari satu dekade, ia menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Perubahan akta dilakukan tanpa transparansi dan tanpa itikad baik, menghilangkan peran klien kami secara sistematis.”
Breno tersenyum kecil saat giliran pihak perusahaan bicara. “Yang Mulia, hukum perusahaan jelas. Hak ditentukan oleh akta, bukan perasaan. Klien kami bertindak profesional.”
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak marah. Aku hanya lelah.
Hakim mengetuk palu pelan. “Pengadilan mencatat bahwa meski penggugat bukan pemegang saham, terdapat indikasi abuse of power dan konflik kepentingan dalam pengelolaan perusahaan keluarga. Pengadilan juga mencatat bahwa tata kelola perusahaan tidak dijalankan secara sehat.” Kalimat itu membuat ruangan sunyi.
Putusan pun dibacakan. Gugatan tidak sepenuhnya mengembalikanku sebagai pemegang saham, tapi pengadilan menyatakan pemutusan hubungan kerjaku cacat prosedur, serta memerintahkan audit independen dan pembatalan beberapa keputusan strategis yang dibuat sepihak.
Breno kehilangan sebagian kewenangannya. Papa… terlihat seperti orang yang baru sadar telah kehilangan kendali.
Di luar ruang sidang, Papa menghentikanku.
“Papa salah,” katanya lirih. “Papa kira keluarga bisa diatur seperti perusahaan. Ternyata perusahaan juga butuh keadilan.”
Aku menatapnya lama. “Aku tidak pernah ingin mengambil alih, Pa. Aku hanya ingin diakui.”
Mama menangis, memelukku erat. Bram berdiri di samping kami dan terdiam. Sedangkan Breno pergi lebih dulu tanpa menoleh.
Beberapa bulan kemudian, bisnis keluarga tidak pernah benar-benar pulih. Reputasi terlanjur retak. Kepercayaan internal hancur. Papa memilih mundur perlahan, menyerahkan pengelolaan perusahaan pada profesional eksternal. Nama keluarga tidak lagi menjadi tameng.
Aku memilih pergi. Bukan karena kalah, tapi karena mengerti satu hal penting bahwa kepemimpinan bukan ditentukan oleh darah, tapi oleh integritas, sistem, dan keberanian menegakkan batas.
Aku menutup bab ini dengan satu keyakinan pahit namun jujur bahwa dalam bisnis keluarga, cinta tanpa struktur akan melahirkan luka, dan akta tanpa etika melahirkan kehancuran.
Dan, kisahku berakhir bukan sebagai penerus, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua yang lahir di dalam bisnis keluarga ditakdirkan untuk mewarisinya, tetapi semua berhak diperlakukan adil. (*/habis)



















