Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Ketika Legalitas Mengalahkan Loyalitas (4): Benturan Kepentingan antara Relasi Keluarga dan Tata Kelola

×

Ketika Legalitas Mengalahkan Loyalitas (4): Benturan Kepentingan antara Relasi Keluarga dan Tata Kelola

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi family business story. (AI by Gemini)
toplegal

SEJAK hari itu, aku tidak lagi bisa berpura-pura semua baik-baik saja.

Setiap langkah di kantor terasa asing, setiap tatapan seolah mengingatkanku bahwa aku hanya tamu di tempat yang dulu kuanggap rumah.

HALAL BERKAH

Tidak ada lagi undangan rapat. Tidak ada lagi akses ke sistem utama. Bahkan kartu akses ruang direksi dinonaktifkan tanpa pemberitahuan.

Suatu pagi, aku mencoba masuk ruang rapat besar. Lampu menyala, kursi terisi. Papa duduk di tengah, Breno di sampingnya. Aku berhenti di ambang pintu.

“Maaf, Mbak,” kata staf dengan suara canggung. “Rapat ini khusus direksi.”

Aku menoleh ke Papa. Ia tidak menatapku. Breno hanya tersenyum tipis, senyum yang sama yang kini selalu muncul setiap kali aku disingkirkan.

Baca Juga:  Drama Tes DNA Hancurkan Bisnis Keluarga (1): Datangnya Orang Ketiga

Siang harinya, Mama mendatangiku di rumah. “Kamu jangan keras-keras begitu sama Papa,” katanya lirih. “Papa lagi capek. Perusahaan lagi butuh ketenangan.”

Aku menatap Mama lama. “Ma, ketenangan siapa? Aku disingkirkan secara hukum, tapi aku diminta tenang demi keluarga.”

Mama terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.

Malam itu, Bram mengajakku bicara di teras belakang. “Aku tahu kamu marah. Tapi kalau kamu bawa ini ke luar, ke pengacara, misalnya, keluarga kita bisa hancur.”

Aku tersenyum pahit. “Mas, keluarga ini sudah hancur sejak aku dikeluarkan tanpa bicara.”

Beberapa hari kemudian, Breno mengumumkan restrukturisasi. Posisi yang selama ini kupegang dihapus. Aku dipindahkan ke unit kecil yang nyaris tidak punya peran strategis.

Baca Juga:  Kutukan Generasi ke-3, Pertarungan Kepemimpinan di Perusahaan Keluarga (4): Dukungan Diam-Diam

“Ini demi efisiensi,” katanya di depan tim. “Kita harus profesional.”

Aku menahan diri agar tidak menangis di depan semua orang. Profesional. Kata itu lagi. Kata yang dipakai untuk menyingkirkanku tanpa rasa bersalah.

Malamnya, aku duduk sendiri dengan tumpukan dokumen. Akta perusahaan, email lama, bukti keterlibatanku sejak awal. Aku sadar satu hal jika aku terus diam, aku bukan hanya kehilangan posisi, tapi juga kehilangan martabat.

Aku membuka ponsel dan mengetik pesan singkat ke seorang kenalan lama, seorang pengacara bisnis yang pernah bekerja sama denganku dulu.

“Aku butuh bicara. Ini soal bisnis keluarga.”

Setelah pesan itu terkirim, tanganku gemetar. Aku tahu, begitu langkah ini kuambil, tidak ada jalan kembali. Ini bukan lagi sekadar konflik keluarga. Ini sudah menjadi konflik hukum.

Baca Juga:  Cyber Greed, Hancurnya Bisnis Keluarga di Era Digital (6): Antara Nama Baik dan Darah Sendiri

Aku menatap langit malam dan berbisik pada diri sendiri,

“Kadang, untuk menyelamatkan diri sendiri, kita harus berani melawan orang yang paling kita cintai.” (*/bersambung)

TEMANISHA.COM