AKU menemukan semuanya tanpa sengaja.
Pagi itu aku diminta bagian keuangan mengantarkan dokumen ke notaris rekanan perusahaan.
Saat menunggu, mataku tertumbuk pada map cokelat bertuliskan “Akta Perubahan Terakhir”. Entah dorongan apa yang membuatku tertarik untuk membukanya.
Namun sekejap, tanganku seketika dingin saat membaca halaman pertama. Susunan pemegang saham telah berubah. Struktur direksi bergeser. Jabatan strategis kini dipegang Breno. Tanggal akta tercantum jelas pada enam bulan lalu.
Ya baru saja, enam bulan lalu.
Saat aku masih bekerja penuh, masih dipercaya mengurus operasional, masih mengira semuanya baik-baik saja.
Aku menelan ludah dan membalik halaman berikutnya. Tidak ada tanda tanganku. Tidak ada persetujuanku. Bahkan namaku sama sekali tidak disebut.
“Maaf, Mbak,” kata staf notaris yang menyadari wajahku memucat. “Akta ini sudah sah. Semua ditandatangani lengkap oleh pemegang saham.”
Pemegang saham? Tapi tidak termasuk aku.
Aku pun balik ke kantor dengan kepala penuh. Di ruanganku yang kini terasa asing, aku membuka laptop dan mencocokkan tanggal-tanggal.
Sejak akta itu dibuat, hampir semua keputusan penting memang tidak lagi melibatkan aku. Semua terasa masuk akal sekarang, tapi justru itu yang menyakitkan.
Sore harinya, aku mendatangi Papa.
“Pa, aku sudah tahu semua,” kataku pelan tapi tegas.
Papa menatapku, seolah sudah menebak. “Tentang apa?”
“Akta perusahaan. Sudah diubah. Diam-diam. Dan aku dikeluarkan.”
Papa menghela napas panjang. “Itu keputusan terbaik saat itu.”
“Terbaik untuk siapa?” tanyaku protes. Mataku panas. “Untuk Papa? Untuk Breno? Atau untuk perusahaan?”
Breno yang duduk di sofa ikut menyela, nada suaranya tenang tapi menusuk.
“Brina sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Secara hukum, kamu memang tidak tercatat. Jadi tidak ada yang dilanggar.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
“Jadi selama ini aku bekerja tanpa hak apa pun? Tanpa perlindungan apa pun?”
Mama mendekat, mencoba memegang tanganku. “Kamu kan anak Mama. Tidak mungkin Papa menyakiti kamu.”
Aku menarik tanganku perlahan. Seakan ingin melepas kondisi yang menghimpitku sekarang.
“Ma, justru karena aku anak, aku yang paling mudah dikorbankan.”
Bram akhirnya bicara, meski suaranya rendah. “Pa, seharusnya ini dibicarakan. Bukan begini caranya.”
Papa memalingkan wajah. “Kalau semua harus dibicarakan, perusahaan tidak akan jalan.”
Aku tersenyum pahit. Jadi begini rasanya. Bertahun-tahun loyalitas kalah oleh satu dokumen hukum. Aku bukan dikhianati secara emosional, tapi dihapus secara legal.
Malam itu aku duduk sendirian. Membuka ulang semua arsip yang pernah kutangani. Kontrak, email, laporan semua bukti bahwa aku pernah menjadi bagian penting dari perusahaan ini. Tapi tanpa namaku di akta, semua itu tidak berarti apa-apa.
Aku akhirnya mengerti, bahwa di bisnis keluarga, cinta tidak tertulis, tapi hak selalu ditentukan oleh akta.
Dan sejak hari itu, satu pikiran mulai tumbuh di kepalaku pelan tapi pasti. Jika aku tidak diakui sebagai penerus dalam keluarga, mungkin aku harus memperjuangkannya lewat hukum. (*/bersambung)



















