TOPMEDIA – Dokter sekaligus musisi Tompi angkat bicara menyikapi candaan komika Pandji Pragiwaksono yang menyinggung fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pernyataan Tompi itu sontak memicu diskusi luas di media sosial mengenai batas etika kritik dan satire di ruang publik.
Reaksi Tompi muncul setelah ia menilai materi stand up comedy Pandji lebih menyoroti aspek fisik, khususnya ekspresi mata Gibran, ketimbang membahas kinerja maupun kebijakan sebagai pejabat negara. Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Tompi menyampaikan keberatan atas arah kritik yang menurutnya telah keluar dari substansi.
“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas,” tulis Tompi pada Minggu (4/1/2026).
Sebagai seorang dokter, Tompi menjelaskan bahwa kondisi mata yang kerap disebut terlihat “mengantuk” memiliki penjelasan medis. Dalam dunia kesehatan, kondisi tersebut dikenal sebagai ptosis, yakni kelainan anatomi yang bisa bersifat bawaan maupun dipengaruhi faktor tertentu.
“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai ptosis. Ini bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tegasnya.
Meski mengkritik cara penyampaian materi tersebut, Tompi menegaskan dirinya tidak menutup ruang kritik terhadap pemerintah. Ia justru menilai kritik, satire, dan humor merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, menurutnya, ada etika yang perlu dijaga agar kritik tetap bermakna.
“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah. Namun, merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” ujarnya.
“Martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” tambah Tompi.
Ia pun mengajak publik untuk menaikkan kualitas diskursus dengan lebih menyoroti gagasan, kebijakan, serta tindakan pejabat publik, bukan aspek personal yang berada di luar pilihan individu.
Di sisi lain, Tompi tetap mengapresiasi karya Pandji secara keseluruhan. Ia mengaku telah menonton pertunjukan tunggal Pandji berjudul Mens Rea yang tayang di Netflix, dan menilai banyak materi yang disampaikan cukup tajam dan relevan.
“Saya nonton show-nya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benernya,” ungkapnya.
Hingga saat ini, Pandji Pragiwaksono belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Tompi tersebut. Namun, polemik ini kembali memunculkan perbincangan publik soal garis tipis antara kritik, satire, dan etika dalam menyampaikan pendapat, terutama ketika menyangkut pejabat negara.
Sejumlah pengamat komunikasi menilai perdebatan ini mencerminkan tantangan demokrasi modern. Salah satunya disampaikan pakar etika komunikasi dari Universitas Indonesia, yang menekankan bahwa kritik paling efektif adalah kritik yang menyasar kebijakan dan keputusan, bukan karakter personal atau fisik, karena justru dapat mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan. (*)



















