TOPMEDIA – Pemerintah resmi menetapkan target lifting minyak dan gas bumi (migas) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 610 ribu barel per hari. ko
Angka ini naik tipis dari target APBN 2025 sebesar 605 ribu barel per hari. Pemerintah juga menargetkan peningkatan gradual hingga mencapai 1 juta barel per hari pada 2030.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menjelaskan bahwa target tersebut berarti produksi minyak Indonesia rata-rata harus naik 100 ribu barel per tahun.
Namun, ia menekankan bahwa pencapaian target ini bukan hal mudah karena banyak tantangan yang harus dihadapi.
“Untuk menambah tingkat produksi sekitar 100 ribu barel per hari bukan sesuatu yang gampang. Tantangan cukup banyak, tapi kita berusaha agar secara gradual peningkatan produksi bisa dilakukan hingga 2030 mencapai 1 juta barel per hari,” kata Yuliot dikutip, Senin (29/12/2025).
Untuk merealisasikan target tersebut, Yuliot meminta agar seluruh kegiatan eksplorasi dan optimalisasi sumur dikonsolidasikan dengan SKK Migas.
Menurutnya, koordinasi penting dilakukan agar kendala di lapangan bisa segera diatasi dan hasil produksi sesuai harapan.
“Perlu dikonsolidasikan, berapa eksplorasi yang dilakukan tahun ini, kemudian sumur-sumur yang bisa dimaksimalkan. Jika ada kendala, tentu harus dikonsolidasikan dengan SKK Migas,” jelasnya.
Selain eksplorasi, pemerintah juga mendorong optimalisasi sumur minyak masyarakat. Melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025, pemerintah telah mengidentifikasi sekitar 45 ribu sumur masyarakat di sejumlah wilayah bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Yuliot menegaskan bahwa pengelolaan sumur masyarakat dapat dilakukan dalam bentuk koperasi maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Dalam Permen 14 Tahun 2025 sudah ada mekanismenya, termasuk legalitas terhadap sumur masyarakat. Ada dua bentuk pengelolaan, yaitu koperasi dan BUMD,” tambahnya.
Meski penuh tantangan, pemerintah optimistis target 1 juta barel per hari pada 2030 bisa tercapai melalui konsolidasi eksplorasi, optimalisasi sumur eksisting, serta pemberdayaan 45 ribu sumur masyarakat.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. (*)



















