TOPMEDIA – Dunia teknologi lagi heboh banget sama yang namanya Artificial Intelligence (AI). Rasanya semua hal sekarang harus pakai embel-embel AI biar kelihatan keren. Tapi, di balik kecanggihan itu, ada kabar kurang sedap buat kalian para pemburu komponen PC atau yang lagi butuh penyimpanan ekstra. Belakangan ini, para pengguna komputer mulai merasakan adanya kenaikan harga pada perangkat Hard Disk Drive (HDD), terutama yang punya kapasitas monster.
Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini cuma permainan pasar atau memang ada hubungannya sama demam AI yang lagi meledak? Ternyata, korelasi antara kebutuhan data AI dan ketersediaan stok HDD itu nyata adanya. Supaya nggak gagal paham dan bisa ancang-ancang buat belanja komponen, yuk kita bedah 5 fakta menarik tentang kenaikan harga HDD akibat tren AI yang lagi panas-panasnya ini.
1. Kebutuhan Gudang Data yang Masif untuk Melatih AI
Proses pengembangan AI, terutama model bahasa besar seperti yang sering kita pakai sekarang, membutuhkan data dalam jumlah yang sangat masif untuk fase pelatihan (training). Data-data ini butuh tempat tinggal, dan di sinilah HDD berperan besar. Meski SSD jauh lebih kencang, HDD tetap menjadi pilihan utama untuk penyimpanan skala besar karena harga per gigabyte-nya yang jauh lebih murah. Permintaan dari perusahaan teknologi raksasa untuk mengisi pusat data mereka secara otomatis menyerap stok yang ada di pasar global.
2. Kapasitas Besar Jadi Incaran Utama Perusahaan Teknologi
Tren kenaikan harga ini paling terasa pada HDD dengan kapasitas 16TB ke atas. Sektor korporat dan penyedia layanan cloud sedang berlomba-lomba mengamankan stok HDD kapasitas tinggi untuk mendukung infrastruktur AI mereka. Fakta uniknya, ketika stok kapasitas besar ini mulai menipis di tingkat produsen, efek dominonya menjalar ke HDD kapasitas kecil yang biasa kita pakai di PC rumahan. Kelangkaan di tingkat atas ini membuat harga di tingkat pengecer ikut merangkak naik karena hukum permintaan dan penawaran.
3. Produsen Mulai Mengurangi Produksi HDD Model Lama
Seiring dengan transisi besar-besaran ke SSD untuk perangkat konsumer seperti laptop dan PC gaming, banyak produsen HDD mulai memangkas lini produksi mereka. Mereka kini lebih fokus memproduksi HDD khusus enterprise atau pusat data. Ironisnya, saat jumlah produksi dikurangi, permintaan dari sektor AI justru melonjak drastis. Ketidakseimbangan antara jumlah barang yang diproduksi dengan permintaan yang datang dari raksasa teknologi inilah yang menjadi bensin utama meroketnya harga di pasaran.
4. HDD Masih Belum Tergantikan untuk Penyimpanan “Cold Data”
Mungkin kalian berpikir, kenapa tidak pakai SSD saja semuanya? Faktanya, untuk penyimpanan jangka panjang atau cold data (data yang jarang diakses tapi harus tetap ada), HDD masih memegang tahta tertinggi. AI membutuhkan ribuan terabyte data referensi yang tidak selalu harus diakses dengan kecepatan kilat, tapi harus tersimpan dengan aman dan hemat biaya. Selama belum ada teknologi penyimpanan murah yang bisa menyaingi efisiensi biaya HDD untuk kapasitas petabyte, maka HDD akan terus diburu oleh pengembang AI.
5. Prediksi Harga yang Masih Akan Terus Bergejolak
Fakta terakhir yang perlu kalian tahu adalah tren ini diprediksi belum akan berakhir dalam waktu dekat. Selama inovasi AI masih terus berkembang pesat, kebutuhan akan ruang penyimpanan akan terus bertambah. Beberapa analis pasar bahkan memperkirakan harga HDD bisa mengalami kenaikan bertahap hingga akhir tahun depan. Ini artinya, buat kalian yang sudah punya rencana merakit PC atau butuh backup data besar, mungkin sekarang adalah waktu yang paling tepat sebelum harganya makin nggak masuk akal.
Nah, itulah alasan kenapa harga HDD sekarang lagi nggak ramah di kantong. Tren AI memang membawa kemudahan, tapi ternyata ada harga yang harus dibayar oleh ekosistem perangkat keras kita. Jadi, kalau kamu memang lagi butuh ruang simpan tambahan, lebih baik segera eksekusi sekarang sebelum dompet makin menjerit di kemudian hari. (respatih)



















