Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Ancaman Penyakit Mengintai Pengungsi Bencana di Sumatra, Pakar Ingatkan Risiko Wabah

×

Ancaman Penyakit Mengintai Pengungsi Bencana di Sumatra, Pakar Ingatkan Risiko Wabah

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra tidak hanya menyisakan kerusakan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memunculkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Dengan jumlah pengungsi yang telah melampaui satu juta orang dan banyaknya fasilitas umum yang rusak, risiko munculnya penyakit menular di lokasi pengungsian kian nyata.

HALAL BERKAH

Pakar kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, menilai kondisi kesehatan di wilayah terdampak saat ini menghadapi tantangan berlapis. Menurutnya, penyakit yang berpotensi muncul dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yakni penyakit yang ditularkan melalui air, makanan, dan udara.

Temuan di lapangan sudah menunjukkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan saluran cerna, keluhan kulit, hingga masalah kesehatan lain yang erat kaitannya dengan kondisi pengungsian.

Baca Juga:  Jennifer Smith Ajukan 900 Lamaran Kerja Tak Ada Satupun yang Menawari Pekerjaan, Pertanda Apa di Amerika?

Situasi ini diperparah oleh belum terjaminnya kebersihan dan sanitasi, sehingga risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular semakin besar.

Sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai antara lain leptospirosis yang kerap muncul pascabanjir, gangguan pencernaan akibat bakteri seperti Salmonella Typhi dan Vibrio cholerae, hepatitis A, penyakit parasit, hingga demam berdarah dengue dan malaria.

Di luar itu, penderita penyakit kronis juga menjadi kelompok rentan karena kondisi mereka dapat memburuk akibat keterbatasan layanan selama bencana.

Tjandra menekankan pentingnya fasilitas kesehatan tetap beroperasi meski dalam situasi darurat. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menentukan keberlangsungan layanan, yaitu ketersediaan tenaga kesehatan, kecukupan alat dan obat-obatan, serta kesiapan sarana dan prasarana pendukung seperti gedung, listrik, dan transportasi.

Baca Juga:  Ekonomi Indonesia Kuartal IV 2025 Terkoreksi Imbas Banjir dan Longsor di Sumatera

Selain layanan darurat, proses perbaikan dan pemulihan fasilitas kesehatan yang rusak juga perlu segera dimulai. Mengacu pada temuan dalam jurnal ilmiah Nature tahun 2025, pengalaman di sejumlah negara menunjukkan bahwa pelayanan rumah sakit pascabanjir bisa berlangsung hingga sekitar 210 hari setelah bencana. Hal ini menegaskan pentingnya ketahanan sistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Tjandra mengingatkan bahwa persoalan kesehatan pascabencana tidak dapat ditangani oleh sektor kesehatan saja.

Pemulihan derajat kesehatan masyarakat sangat bergantung pada pulihnya sektor lain, seperti ketersediaan tempat tinggal, lapangan kerja, akses pendidikan, dan kelancaran transportasi. Selama aspek-aspek tersebut belum terpenuhi, masyarakat akan sulit hidup tenang dan mencapai kondisi kesehatan yang optimal. (*)

TEMANISHA.COM