TOPMEDIA – Permainan Truth Or Dare memakan korban. Kali ini terjadi di kampus. Pelecehan seksual terjadi di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).
Aksi bejat ini melibatkan sekelompok mahasiswa yang melecehkan mahasiswi bermodus permainan tersebut.
Di dapat dari akun Instagram @kentingansantuy yang viral di sosial media, pelecehan seksual oleh mahasiswa ini mencuat dan populer di Minggu ini.
Awal Mula Kasus
Dari akun tersebut dikabarkan kronologi kasus itu terjadi. Awalnya korban yang belum diketahui namanya ini berada di kos temannya untuk mengerjakan tugas bersama dua orang lainnya.
Namun karena teman korban enggan diajak mengerjakan di luar, ia bersama temannya tetap mengerjakan tugas di kos.
“Pada malam hari yang sama, anak-anak dari acara voli ***** ***** yang baru selesai bertanding malam itu datang ke kos tersebut yang merupakan tempat yang sama dimana korban dan teman- temannya sedang kumpul,” tulis akun tersebut, Rabu (3/12).
Karena sudah tak ingin mengerjakan skripsi itu, mereka kemudian memutuskan bermain. Mereka bermain dalam keadaan dan kondisi sadar tanpa pengaruh minuman atau lainnya.
“Dikarenakan sudah terlalu ramai dan sudah tidak nyaman untuk mengerjakan skripsi, mereka memutuskan bermain game agar suasana tidak terlalu membosankan. Hal ini juga dilakukan tanpa alkohol maupun obat2-an terlarang. Game yang dipilih adalah Truth or Dare (ToD), yang pada ya adalah permainan biasa.
Namun tanpa alasan yang jelas, dan tanpa diketahui korban sebelumnya, arah permainan ToD malah berubah menjadi “dare” yang bernuansa seksual dan mesum.
Korban sebenarnya sudah menolak berkali-kali mengikuti permainan itu. Akan tetapi para pelaku tetap memaksa dan membuat korban kalah terus.
Para pelaku melecehkan korban dengan dalih sportivitas. Korban yang merasa dilecehkan sempat melawan, namun tetap dipaksa oleh para pelaku.
Kampus Gelar Penyelidikan
Ismi Dwi Astuti, Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual UNS mengatakan, laporan telah diterima sejak hari Senin (1/12).
“Kasusnya sudah dilaporkan ke Satgas 1 Desember dan saat ini sedang dalam proses pemeriksaan,” katanya, Rabu (3/12).
Belum ada kepastian jumlah pelaku yang diperiksa, ismi memastikan yang digali informasi tersebut dari pelapor, terduga korban, dan saksi serta terlapor.
“Kami tidak menetapkan jumlahnya. Mengacu pada regulasi, yang akan dimintai keterangan adalah pelapor,terduga korban, para saksi dan terlapor,” ucapnya.
Ditanya mengenai berapa jumlah terlapor Ismi enggan menjawab. “Pelapor tidak selalu korban. Kami belum bisa menyampaikannya di sini,” ujar dia.
Ismi melanjutkan, pihaknya menggelar pemeriksaan terhadap pelapor pelecehan seksual hingga pihak yang dilaporkan.
“Sesuai mekanisme yang diatur dalam permendikbudristek 55/2024 dan peraturan rektor nomor 7 tahun 2025, tata urut pemeriksaan adalah mulai pelapor, kemudian korban, kemudian saksi, baru terlapor,” katanya, Kamis (4/12).
Nama-nama yang disebutkan ke Satgas tengah diperiksa untuk dimintai konfirmasi kebenarannya. Ismi masih irit bicara soal jumlah pihak yang diperiksa.
“Sedang dalam proses (meminta keterangan). Nama-nama yang disampaikan dalam laporan ke Satgas akan diperiksa dan dikonfirmasi kebenarannya,” ucapnya.
Satgas PPKS UNS juga tengah menunggu permintaan korban apakah membutuhkan psikolog atau tidak.
“Di mekanisme kami, korban bisa dirujuk ke direktorat konseling mahasiswa jika yang bersangkutan menyatakan membutuhkan layanan konseling psikolog,” jelasnya. (*)



















