TOPMEDIA – Dunia hiburan tanah air kembali berduka. Pada Rabu, 3 Desember 2025, aktor senior Epy Kusnandar, yang begitu lekat di hati pemirsa lewat sosok Kang Mus, berpulang pada pukul 14.24 WIB. Kepergiannya seketika menjadi kabar yang menyesakkan dada, terutama bagi para penonton yang tumbuh bersama karya-karyanya.
Bagi banyak orang, Epy bukan sekadar aktor. Ia adalah bagian dari rutinitas, menjadi wajah yang di nantikan banyak keluarga di Bandung setiap kali Preman Pensiun mengudara. Sinetron itu serupa jendela kecil yang memotret denyut kota: gang-gang sempit, hiruk pikuk pasar, hingga dialog khas Sunda yang terasa seperti percakapan tetangga sehari-hari.
Tak banyak sinetron yang berhasil membangun ikatan emosional seperti itu, apalagi bertahan hingga beberapa musim dan tetap digandrungi. Preman Pensiun melakukannya dengan mudah, seolah hadir sebagai cerita yang lahir dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Ketika Kang Mus berpulang, ada sepotong rasa kehilangan yang ikut menetap di hati sebagai warga Bandung dan penonton setia.
Sinetron Preman Pensiun Begitu Mengena
Di tengah dominasi sinetron romansa dan drama fantasi, Preman Pensiun muncul sebagai kejutan menyegarkan. Tontonan ini mengangkat kisah yang jujur dan sederhana: para mantan preman yang mencoba menutup bab kelam, kembali ke jalan yang benar, dan menata hidup dengan rezeki halal.
Tidak ada adegan kekerasan berlebihan. Yang ada justru percakapan-percakapan lugas, pergulatan batin, dan perjuangan menjadi manusia baru. Kang Mus, yang mengambil alih kepemimpinan setelah bosnya wafat, menjadi lambang transformasi itu. Sosoknya tegas namun penuh nurani, keras sekaligus lembut, membuat penonton merasa dekat dan memahami luka-luka yang ia sembunyikan.
Dialog Preman Pensiun juga punya kekuatan tersendiri. Logat Sunda yang khas, diselipkan humor cerdas ala preman jalanan, membuat setiap kalimat terasa hidup dan penuh filosofi. Banyak di antaranya yang bahkan melekat dalam percakapan sehari-hari kami di rumah, menjadi candaan, pengingat, atau sekadar pemecah suasana.
Serial ini berhasil mengubah cara masyarakat memandang “preman”. Mereka tidak lagi diposisikan sebagai antagonis murni, melainkan manusia biasa yang ingin memperbaiki diri, punya keluarga untuk dinafkahi, dan menyimpan harapan sederhana tentang kehidupan yang damai. Itulah sisi yang jarang ditampilkan di televisi, dan justru menjadi alasan sinetron ini begitu dicintai.
Epy Kusnandar: Lebih dari Sekadar Kang Mus
Walaupun publik mengenalnya lewat peran Kang Mus, perjalanan Epy Kusnandar sebagai aktor jauh lebih panjang. Ia lahir dari panggung teater, tempat ia menempa kemampuan aktingnya sebelum melangkah ke layar kaca dan layar lebar.
Namun, pertemuannya dengan karakter Muslihat adalah momen yang mengubah segalanya, peran yang seakan ditakdirkan untuknya, yang menjadikannya ikon budaya populer Indonesia.
Perjalanan hidup Epy dibalik layar juga penuh liku. Ia pernah didiagnosis tumor otak dan diberi prediksi hidup yang tak panjang. Namun dengan tekad kuat dan dukungan sang istri, Karina Ranau, ia bangkit dan memilih jalur pengobatan alternatif. Kesembuhannya menjadi kisah inspiratif yang menggaungkan harapan bagi banyak orang.
Setelah pulih dan kembali beraktivitas, ia sempat terseret kasus narkoba. Namun ia tidak lari, ia menjalani rehabilitasi dan menata ulang hidupnya. Kejatuhan dan kebangkitannya membuat publik melihatnya sebagai manusia yang rapuh sekaligus tangguh.
Setiap pengalaman pahit dan manis itu kemudian menjelma menjadi kedalaman emosi dalam sosok Kang Mus. Bukan hanya peran, tetapi perwujudan perjalanan seorang pejuang.
Kenangan yang Tidak Akan Pensiun


Bagi kami yang tinggal di Bandung, Preman Pensiun bukan hanya tayangan televisi, melainkan bagian dari identitas kota. Kami menontonnya sambil menebak lokasi syuting, memperbincangkannya di meja makan, dan menanti tiap musim baru seperti menyambut tamu akrab.
Kini, setelah Epy Kusnandar berpulang, ada keheningan yang menggantung. Seolah salah satu sudut kota kehilangan suara khasnya.
Namun kami tahu satu hal: Kang Mus tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam memori kolektif penonton, dalam dialog-dialog khas yang tetap kami ulang, dan dalam filosofi sederhana tentang perubahan dan kesempatan kedua.
Akhir Perjalanan
Dan, pada 3 Desember 2025, Epy Kusnandar menutup babak terakhir perjalanan hidupnya. Tetapi warisan yang ia tinggalkan, baik sebagai aktor maupun sebagai sosok Kang Mus, akan terus melekat di hati masyarakat. Ia telah mengajarkan kita bahwa perubahan selalu mungkin, bahwa manusia bisa bangkit dari masa lalu, dan bahwa cerita sederhana pun mampu menggugah jutaan hati.
Selamat jalan, Kang Mus. Jejakmu di layar kaca dan di ingatan kami tidak akan pernah pensiun. (*)

















