Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Saat Tumbler Jadi Cermin Status Sosial: Benarkah Kita Sedang Kehilangan Nilai Kemanusiaan?

×

Saat Tumbler Jadi Cermin Status Sosial: Benarkah Kita Sedang Kehilangan Nilai Kemanusiaan?

Sebarkan artikel ini
Ada matching warna antara handbag dan tumbler, jadi aksesoris fesyen saat ini.
toplegal

TOPMEDIA – Perbincangan soal tumbler kembali mencuat setelah seorang penumpang KAI mengaku kehilangan tumbler kesayangannya yang terselip di dalam cooler bag saat berada di dalam kereta. Keluhan itu beredar luas di media sosial dan memicu diskusi warganet, bukan hanya soal barang yang hilang, tetapi juga tentang bagaimana tumbler kini dianggap lebih dari sekadar botol minum.

Selama beberapa tahun terakhir, tumbler telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang—membantu mengurangi plastik sekali pakai dan mendukung kebiasaan lebih ramah lingkungan. Namun muncul fenomena baru: tumbler seakan menjadi penanda kelas sosial. Tidak sedikit orang yang kemudian menilai nilai seseorang berdasarkan merek, warna, atau desain tumbler yang dibawanya.

HALAL BERKAH

Sosiolog Nia Elvina menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran nilai di tengah masyarakat. Padahal, para pendiri bangsa telah membangun landasan bernegara yang menjunjung kesetaraan. Menurutnya, nilai dasar itu menempatkan manusia sebagai pusat dari kehidupan sosial, bukan pada status atau kekayaan materi.

Baca Juga:  Kuasa Hukum Aura Kasih Angkat Suara Terkait Isu Miring Perselingkuhan

“Jika merujuk pada nilai dasar bangsa kita, sesungguhnya tidak ada ruang untuk membeda-bedakan status sosial berdasarkan barang atau jabatan,” ujarnya. Menurut Nia, ketika orang mulai memberi label terhadap seseorang hanya karena tumbler atau barang yang digunakan, di situlah makna kemanusiaan dipersempit.

Ia menyebut, perilaku menilai seseorang dari simbol material seperti tumbler merupakan bentuk kedangkalan sosial. Barang yang berfungsi praktis justru berubah menjadi ukuran martabat seseorang. Padahal, kualitas diri seseorang tidak ditentukan oleh apa yang mereka bawa atau pakai, melainkan oleh karakter, empati, integritas, dan bagaimana mereka berkontribusi di masyarakat.

Terkikisnya Nilai Kemanusiaan?

Fenomena tumbler sebagai simbol status sosial ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga bagian dari budaya konsumsi global. Barang-barang tertentu, baik itu tumbler, tas, atau aksesori, sering kali dijadikan identitas sosial. Namun Nia menegaskan, fenomena ini bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang ingin dibangun oleh negara.

Baca Juga:  Fadli Zon Kunjungi Situs Budaya Maluku

Di sisi lain, ada pula sisi budaya pop yang tidak dapat diabaikan. Tumbler kini juga hadir sebagai bagian dari gaya hidup, bahkan alasan orang mengumpulkannya pun beragam. Salah seorang kolektor tumbler, Moudy (27) dari Cibinong, mengaku awalnya membeli tumbler karena kebutuhan. Ia merasa lebih mudah membawa botol minum sendiri daripada harus berhenti di warung untuk membeli minuman setiap kali berpergian.

Namun seiring waktu, ia mulai tertarik dengan warna dan desainnya. Ia senang ketika tumbler yang dimiliki bisa serasi dengan outfit yang ia kenakan. Dari satu hingga dua buah tumbler, kini ia memiliki sekitar 15 koleksi. Beberapa di antaranya bahkan dibeli dengan harga mencapai Rp400 ribu per item.

Motif, warna, dan kesesuaian dengan gaya berpakaian menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak anak muda. Tak jarang tumbler kini dianggap sebagai aksesoris fesyen. Meski begitu, bagi sebagian orang penggunaan tumbler tetap berangkat dari kebutuhan praktis, bukan semata simbol kelas sosial.

Baca Juga:  Hadapi Tantangan Konsumen dan Pesaing Baru, Starbucks Rencanakan Restrukturisasi Rp 16,7 Triliun

Jangan Terjebak Makna Simbolik

Pembicaraan soal tumbler mengajarkan satu hal penting: bahwa manusia mudah terjebak dalam makna simbolik suatu barang. Ketika barang diperlakukan sebagai penanda status, kita sebenarnya tengah menggeser nilai kemanusiaan yang seharusnya lebih tinggi dari sekadar benda.

Pada akhirnya, Nia mengingatkan bahwa masyarakat ideal adalah masyarakat yang menilai seseorang dari karakter, etika, dan kontribusinya. Bukan dari merek tumbler, tas, atau barang apa pun yang melekat pada diri mereka.

Maka pertanyaannya bukan lagi tentang tumbler itu sendiri, melainkan bagaimana kita memaknai hubungan antarmanusia di tengah budaya konsumsi modern yang semakin menonjolkan simbol material. (*)

TEMANISHA.COM