Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

4,79 Persen Keluarga di Indonesia Alami Konflik Cerai Hidup, Kesehatan Mental Anak Kian Rawan

×

4,79 Persen Keluarga di Indonesia Alami Konflik Cerai Hidup, Kesehatan Mental Anak Kian Rawan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. (Pinterest)
toplegal

TOPMEDIA – Konflik rumah tangga masih menjadi masalah besar yang mengancam kesehatan mental anak. Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), 4,79% keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup.

Konflik cerai hidup atau broken home ini dampaknya cukup besar terhadap kesehatan mental anak.
Broken home bukan hanya isu psikologis anak, tetapi juga berdampak pada interaksi sosial dan kualitas hidup masyarakat.

HALAL BERKAH

Angka konflik cerai hidup ini tidak hanya menunjukkan tingginya kasus perceraian, tetapi juga menandai meningkatnya fenomena broken home yang berdampak luas pada kehidupan sosial masyarakat.

Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Atika Dian Ariana MSc MPsi, menegaskan bahwa broken home bukan sekadar masalah internal keluarga, melainkan berpengaruh pada lingkungan sosial.

Baca Juga:  Family Constitution: The Missing Rules (6): Ketika Bisnis Mulai Membayar Harga

“Broken home muncul akibat konflik tinggi yang membuat keluarga tidak lagi berfungsi optimal. Dampaknya bukan hanya pada anak, tetapi juga pada kualitas interaksi sosial di masyarakat,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Atika menjelaskan, anak dari keluarga broken home sering menunjukkan perubahan perilaku yang memengaruhi hubungan dengan teman sebaya.

Mereka cenderung menarik diri, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami penurunan prestasi akademik.

“Gejala yang muncul seperti kemarahan, kecemasan, atau ketakutan berlebih dapat mengganggu proses adaptasi anak di lingkungan sosial,” tambahnya.

Lebih lanjut, Atika menekankan bahwa kondisi ini bisa menimbulkan efek domino. Anak yang kehilangan dukungan emosional dari keluarga berisiko mengalami kesulitan membangun relasi sehat di masyarakat.

Baca Juga:  Tragis, Sosialita AS Tembak Kepala Sendiri Karena Terjerat Masalah Hukum

“Ketika komunikasi keluarga buruk, anak bisa merasa terasingkan. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas hidup generasi muda,” jelasnya.

Meski begitu, Atika menegaskan tidak semua anak dari keluarga broken home mengalami gangguan psikologis. Peran orang tua tetap menjadi faktor penentu.

“Komunikasi terbuka dan pendampingan konsisten dapat membantu anak menyalurkan emosinya. Dengan begitu, mereka tetap bisa tumbuh dan beradaptasi dengan baik,” paparnya.

Menurut Atika, anak bukanlah penyebab konflik keluarga, namun justru sering menjadi korban dari konflik keluarga.

“Konflik terjadi antara orang dewasa. Anak harus tetap fokus pada tujuan dan cita-citanya. Apa yang terjadi dalam keluarga tidak menentukan masa depan mereka,” pungkasnya.

Inilah mengapa kesehatan mental anak-anak kian rentan, bahkan memicu tindakan-tindakan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Termasuk mempengaruhi kehidupan mereka ke depan. (*)

TEMANISHA.COM